Jawa Pos Radar Ngawi – Ancaman penyakit berbahaya pada hewan kurban menjadi perhatian serius Dinas Perikanan dan Peternakan (DPP) Ngawi saat Iduladha 1447 Hijriah.
Sebanyak 35 dokter hewan diterjunkan menyisir lokasi penyembelihan di 19 kecamatan untuk memastikan daging kurban aman dikonsumsi masyarakat.
Kabid Kesehatan Hewan DPP Ngawi Tony Wibowo mengatakan, pemeriksaan difokuskan pada organ dalam hewan kurban, terutama limpa yang menjadi indikator utama penyakit antraks.
“Kalau limpa berwarna merah muda cerah dan tidak bengkak berarti aman. Tapi kalau hitam dan membengkak itu indikasi bahaya,” ujarnya, kemarin (27/5).
Selain 35 dokter hewan, DPP juga menerjunkan lima paramedis dan 19 petugas pencatatan untuk memantau penyembelihan hewan kurban di seluruh wilayah Ngawi.
Menurut Tony, pemeriksaan dilakukan melalui tahapan postmortem atau pengecekan organ dalam setelah hewan disembelih.
Selain antraks, petugas juga mewaspadai temuan cacing hati atau Fasciola hepatica pada organ hati sapi dan kambing.
Jika ditemukan cacing hati, bagian organ yang terinfeksi diminta langsung dibuang.
Namun bagian hati lain yang masih sehat tetap dapat dikonsumsi setelah direbus minimal 15 menit.
“Sejauh ini belum ditemukan kasus antraks dan semoga memang tidak ada di Ngawi,” katanya.
Meski keterbatasan personel membuat petugas belum mampu menjangkau seluruh titik penyembelihan sekaligus, DPP memastikan pemantauan tetap dilakukan secara berkala hingga hari terakhir tasyrik. (sae/den)
Editor : Hengky Ristanto