Jawa Pos Radar Ngawi – Hasil Seleksi Penerimaan Murid Baru (SPMB) 2026/2027 menjadi alarm bagi dunia pendidikan di Kabupaten Ngawi.
Dari total 50 SMP negeri yang membuka penerimaan siswa baru tahun ini, hanya tiga sekolah yang berhasil memenuhi kuota atau pagu secara penuh.
Sementara itu, puluhan sekolah lainnya masih kekurangan peserta didik.
Bahkan, empat SMP negeri tercatat mengalami krisis pendaftar akibat minimnya jumlah lulusan sekolah dasar di wilayah sekitar.
Kepala Bidang Pendidikan Dasar Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikbud) Ngawi Zainal Fanani mengatakan hanya tiga sekolah yang mampu memenuhi pagu 100 persen pada pelaksanaan SPMB tahun ini.
"Total ada 50 SMPN, yang pagu terpenuhi 100 persen hanya tiga sekolah," ujarnya, kemarin (22/6).
Tiga sekolah tersebut adalah SMPN 1 Jogorogo, SMPN 1 Paron, dan SMPN 1 Ngawi.
Sebaliknya, 47 SMP negeri lainnya masih belum mampu memenuhi jumlah siswa sesuai kuota yang telah ditetapkan.
Menariknya, kondisi kekurangan siswa tidak hanya terjadi di sekolah pinggiran.
SMPN 2 Ngawi yang selama ini dikenal sebagai salah satu sekolah favorit juga belum berhasil memenuhi pagu.
"Bahkan SMPN 2 Ngawi yang diminati dan difavoritkan juga masih kurang, tidak memenuhi pagu," terangnya.
Kondisi paling mengkhawatirkan terjadi di sejumlah sekolah yang berada di wilayah dengan jumlah lulusan SD relatif sedikit.
SMPN 3 Kedunggalar menjadi sekolah dengan jumlah pendaftar paling minim.
Hingga penutupan proses penerimaan, sekolah tersebut hanya memperoleh lima calon siswa baru.
Situasi serupa juga terjadi di SMPN 3 Kendal, SMPN 3 Pitu, dan SMPN 3 Widodaren yang sama-sama mengalami kekurangan pendaftar.
Menurut Zainal, persoalan tersebut bukan fenomena baru karena telah terjadi selama beberapa tahun terakhir.
Faktor utama yang memengaruhi adalah kondisi demografi serta minimnya jumlah lulusan SD di sekitar wilayah sekolah.
"Kendala utamanya karena lulusan SD di sekitar sekolah itu memang sedikit," ungkapnya.
Berdasarkan hasil pemetaan Dikbud Ngawi, ketimpangan antara jumlah lulusan SD dan kapasitas SMP menjadi penyebab utama tidak terpenuhinya pagu sekolah.
Tahun ini, jumlah lulusan SD di Kabupaten Ngawi hanya sekitar 7.600 anak.
Sementara total kursi yang disediakan seluruh SMP negeri mencapai 9.000 kursi.
Artinya, terdapat selisih sekitar 1.400 kursi yang secara matematis sulit terpenuhi.
Kondisi tersebut menjadi bahan evaluasi bagi pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan pendidikan pada tahun-tahun mendatang.
"Ini menjadi catatan kami ke depan," pungkasnya. (sae/den)
Editor : Hengky Ristanto