Jawa Pos Radar Madiun - Memimpin sekolah modern hari ini tak bisa lagi disamakan dengan sekadar menjalankan tugas birokrasi di balik meja.
Bagi Kepala SMAN 2 Ngawi, Sugiyo, mengelola institusi pendidikan memiliki tingkat kompleksitas setara korporasi besar, di mana seorang kepala sekolah dituntut berpikir layaknya seorang Chief Executive Officer (CEO).
‘’Sumber daya di sini sangat kompleks. Kami mengelola ratusan karyawan dengan peran berbeda, guru sebagai tim produksi, tata usaha di sektor operasional, hingga penjaga sekolah di bagian sarana,’’ ungkap Sugiyo.
Logika bisnis tersebut juga ia terapkan dalam tata kelola anggaran. Mengelola dana publik yang sensitif, ia menuntut adanya financial planning ketat yang transparan dan akuntabel.
‘’Dalam dunia pendidikan, Return on Investment (ROI) kami wujudnya bukan lembaran rupiah, melainkan grafik prestasi siswa,’’ tegasnya.
Prinsip itu terbukti valid. Pada 2026, SMAN 2 Ngawi sukses meloloskan 72 siswanya ke PTN favorit melalui jalur SNBP.
Meski begitu, ia menolak mengklaimnya secara sepihak. ‘’Capaian ini adalah warisan kerja keras pemimpin terdahulu bersama para guru, kami tinggal melanjutkan momentumnya,’’ tuturnya merendah.
Menghadapi kurikulum yang dinamis, ia menekankan pentingnya strategic thinking, keberanian mengambil risiko terukur, serta kepiawaian membangun jejaring dengan mitra industri (DUDI).
Berkat kombinasi pemikiran pendidik dan pebisnis tersebut, peraih Millennial Entrepreneur Award 2026 ini dianugerahi penghargaan dalam Radar Madiun Education Awards 2026.
‘’Sekolah tidak bisa hidup di ruang hampa, kita harus keluar bernegosiasi agar ekosistem ini bertumbuh,’’ pungkasnya. (rio/*/naz)
Editor : Tim Magang Radar Madiun