Jawa Pos Radar Ngawi – Ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian Pemerintah Kabupaten Ngawi memasuki musim kemarau.
Kondisi cuaca yang diprediksi lebih panas dan berlangsung lebih panjang membuat potensi kebakaran meningkat, terutama di kawasan rawan seperti Gunung Lawu.
Kasi Kedaruratan BPBD Ngawi Partoyo mengatakan, karakter geografis wilayah Ngawi membuat daerah ini memiliki tingkat kerawanan tinggi terhadap karhutla.
Apalagi, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi kemarau tahun ini berlangsung lebih kering dengan suhu lebih tinggi dibandingkan kondisi normal.
"Dengan cuaca ekstrem yang diprediksi tahun ini, potensi kebakaran hutan menjadi salah satu fokus utama yang wajib diantisipasi," ujar Partoyo, Selasa (14/7).
Berdasarkan data BMKG, tren kenaikan suhu telah terlihat sejak beberapa bulan terakhir.
Pada Mei lalu, suhu rata-rata nasional mencapai 27,5 derajat Celsius atau sekitar 0,5 derajat lebih tinggi dibandingkan rata-rata klimatologi periode 1991–2020.
Kondisi kering dan terik tersebut diperkirakan masih berlangsung hingga puncak musim kemarau yang diprediksi terjadi pada Oktober mendatang.
Potensi karhutla menjadi perhatian serius lantaran kejadian besar pernah terjadi di kawasan Gunung Lawu pada 2023.
Saat itu, api menghanguskan sekitar 1.400 hektare kawasan hutan.
Proses pemadaman berlangsung cukup lama karena medan yang sulit dijangkau serta kondisi angin yang mempercepat penyebaran api.
Untuk mencegah kejadian serupa, BPBD Ngawi memperkuat koordinasi dengan Kesatuan Pengelolaan Hutan (KPH) Lawu Ds.
Berbagai langkah pencegahan mulai disiapkan, termasuk pembuatan sekat bakar di kawasan rawan.
"Salah satu langkah konkret kami adalah meningkatkan koordinasi dengan KPH Lawu Ds. Kami bersama-sama merancang langkah preventif di lapangan, salah satunya dengan pembuatan sekat bakar," jelas Partoyo. (sae/den)
Editor : Hengky Ristanto