Jawa Pos Radar Madiun - Pemerintah Desa (Pemdes) Sidokerto, Kecamatan Karangjati, Kabupaten Ngawi, sukses melaksanakan kegiatan Bersih Desa yang dipusatkan di dua wilayah, yakni Dusun Samben 1 dan Dusun Samben 2.
Tradisi turun-temurun ini dinilai sarat akan makna luhur yang menyentuh aspek spiritual, sosial, hingga upaya pelestarian budaya Jawa secara berkelanjutan.
Kepala Desa Sidokerto Juwandi mengungkapkan bahwa agenda tahunan ini merupakan sebuah wadah sakral untuk menyampaikan doa dan harapan warga secara kolektif.
"Keutamaan paling mendasar adalah sebagai sarana mengungkapkan rasa syukur kolektif kami kepada Tuhan Yang Maha Esa," ujarnya.
Melalui rangkaian kegiatan ini, pihak pemdes berkomitmen penuh untuk menjaga agar eksistensi kebudayaan lokal tidak tergerus zaman dan tetap dikenal oleh generasi muda.
Demi mewujudkan misi tersebut, perayaan Bersih Desa kali ini disemarakkan dengan menggelar pertunjukan kesenian tradisional tari Gambyong.
Baca Juga: 13.699 Warga Pacitan Terserang ISPA, Dinkes Waspadai Lonjakan Saat Kemarau
Penguatan Solidaritas Sosial dan Stimulus Ekonomi Kerakyatan
Aktivitas kerja bakti massal di fasilitas umum terbukti ampuh mengikis sekat sosial dan potensi gesekan antar-kelompok warga.
Juwandi menambahkan bahwa momentum ritual ini terbukti sangat efektif untuk mempererat jalinan tali silaturahmi antar-sesama warga.
Seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang latar belakang usia maupun status sosial bergotong royong membersihkan area makam leluhur, akses jalanan desa, hingga fasilitas umum lainnya.
Proses interaksi fisik ini dipercaya mampu menumbuhkan rasa kebersamaan yang kuat, memupuk solidaritas, sekaligus meredam benih konflik di tengah masyarakat.
Di sisi lain, kemasan acara yang kental dengan nuansa pesta rakyat tersebut membawa berkah finansial tersendiri bagi perekonomian lokal.
Hadirnya ratusan massa di lokasi acara secara otomatis langsung menggerakkan roda ekonomi para pelaku industri kreatif dan usaha kecil.
Berbagai sektor mulai dari seniman tari, pengusaha penyewaan sound system, jasa dekorasi terop, hingga para pedagang kaki lima meraup keuntungan berlipat selama acara berlangsung.
Regenerasi Pemuda dan Modal Kondusifitas Pembangunan Desa
Keterlibatan aktif kelompok remaja dalam kepanitiaan menjadi kunci utama eksistensi kebudayaan lokal di masa depan.
Pihak pemerintah desa secara khusus mengajak jajaran generasi muda untuk ikut ambil bagian, baik dalam tahap persiapan teknis maupun saat pagelaran inti tradisi Nyadran ini.
Menurut Juwandi, tanpa adanya keterlibatan pemuda sedini mungkin, warisan sejarah peninggalan leluhur ini perlahan akan tersisihkan dan terlupakan.
Dalam puncak pentas seni Gambyong, keakraban terlihat jelas saat seluruh perangkat desa, pengurus RT/RW, tokoh masyarakat, dan warga berbaur menjadi satu dalam suasana gayeng.
Hubungan harmonis yang tercipta ini diyakini mampu menjaga kondusifitas wilayah yang sangat menunjang kelancaran program pembangunan.
"Semakin kuat kebersamaan dan kegotongroyongan menjadi modal utama kami semua untuk bersama membangun Desa Sidokerto yang semakin maju," pungkas Juwandi. (*)
Editor : Mizan Ahsani