Jawa Pos Radar Madiun - Pemerintah Desa (Pemdes) Dero, Kecamatan Bringin, Kabupaten Ngawi, secara konsisten terus merawat warisan leluhur sekaligus menebalkan nilai-nilai spiritual warganya.
Langkah pelestarian kearifan lokal tersebut diwujudkan melalui perhelatan tradisi Bersih Desa yang digelar pada 4 hingga 7 Juli lalu.
Kepala Desa Dero, Ariyadi, menegaskan bahwa seluruh rangkaian ritual tahunan ini berjalan penuh khidmat.
''Karena setiap prosesi Bersih Desa selalu kami awali dengan doa bersama ini bentuk rasa syukur masyarakat Desa akan segala keberkahan dari Tuhan Yang Maha Esa pun di puncak acara juga dilaksanakan pengajian umum,'' ujarnya.
Sebelum melangkah ke inti prosesi adat, aparatur desa bersama tokoh masyarakat setempat membuka kegiatan dengan tahlil dan doa bersama di pendapa balai desa.
''Di hari berikutnya kami laksanakan doa ke makam para leluhur dimulai dari makam Mbah Among, Makam Besar, Makam Kecil, Punden Mbah Gati Tegal Duwur, Makam Tegal Duwur dan final di Sendang Tegal Duwur dan malam harinya tirakatan di Sendang Beji,'' jelas Ariyadi.
Memasuki hari selanjutnya, tradisi inti Keduk Beji dilangsungkan di kawasan sendang pada pagi hari sekitar pukul 08.00 dengan iringan alunan gamelan. Kemeriahan kemudian dilanjutkan pada malam hari melalui pementasan seni Tayub di area lapangan desa setempat.
''Ini menjadi perpaduan antara religius dan budaya,'' katanya.
Baca Juga: Brigjen Donny Pramono Ungkap Dugaan Penyebab Ledakan Gudang Amunisi TNI di Madiun
Akulturasi Kearifan Lokal dan Agama
Menurut Ariyadi, bersatunya nilai spiritualitas keagamaan dengan kearifan lokal dalam perayaan ini merupakan bukti nyata akulturasi yang indah di tengah masyarakat Jawa.
Adat istiadat warisan masa lalu terbukti tidak saling berbenturan dengan ajaran agama.
''Justru dengan ini bisa berjalan beriringan dan saling memperkuat,'' tuturnya.
Sebagai penutup perhelatan, Pemdes Dero mengadakan pengajian akbar yang dinilai bukan sekadar pelengkap acara, melainkan poros utama penyelarasan iman dan budaya.
''Tujuan pengajian umum ini sekaligus untuk menyatukan seluruh elemen masyarakat tanpa memandang kelas sosial, usia, maupun latar belakang politik,'' terangnya.
Ariyadi meyakini bahwa pendekatan perayaan semacam ini memberikan teladan berharga, khususnya bagi generasi penerus di desanya. Anak-anak muda diajak untuk merawat tradisi lewat koridor yang positif serta membentengi diri dari hiburan yang melenceng dari norma moral.
''Ini bentuk akulturasi budaya yang indah yang tidak menghilangkan esensi menghormati sejarah dan asal-usul desa, namun membalutnya dengan syariat Islam agar bernilai ibadah dan membawa ketenteraman lahir serta batin bagi seluruh warga,'' pungkasnya. (rio/naz/*)
Editor : Mizan Ahsani