Krisis Air Bersih di Ngawi Meluas, Delapan Desa Terdampak Kekeringan

Asep Syaeful • Dipublikasikan Jumat, 7 Agustus 2026 | 19:30 WIB
PASOK AIR: Petugas melakukan dropping air bersih ke Desa Kiyonten, Kecamatan Kasreman, Kamis (6/8). (Asep Syaeful Bachri/Jawa Pos Radar Ngawi)
PASOK AIR: Petugas melakukan dropping air bersih ke Desa Kiyonten, Kecamatan Kasreman, Kamis (6/8). (Asep Syaeful Bachri/Jawa Pos Radar Ngawi)

Jawa Pos Radar Madiun – Dampak kemarau di Kabupaten Ngawi semakin meluas.

Dua desa kembali masuk daftar wilayah terdampak kekeringan sehingga kini total delapan desa mengalami krisis air bersih.

Dua wilayah terbaru adalah Desa Suruh dan Desa Bringin. Penambahan tersebut membuat sedikitnya 174 kepala keluarga (KK) baru membutuhkan pasokan air bersih.

‘’Yang terdampak sebelumnya ada enam desa, dan sekarang bertambah dua desa, yakni Desa Suruh dan Desa Bringin,’’ kata Kasi Kedaruratan BPBD Ngawi, Partoyo, Jumat (7/8).

Meluasnya wilayah terdampak membuat BPBD Ngawi terus melakukan dropping air bersih ke titik-titik yang mengalami krisis.

Hingga saat ini, delapan tangki air telah dikirimkan ke sejumlah wilayah terdampak. Setiap truk memiliki kapasitas sekitar 5.500 liter.

Artinya, sedikitnya 44 ribu liter air bersih telah digelontorkan untuk memenuhi kebutuhan masyarakat selama musim kemarau.

Dropping terbaru dilakukan ke Desa Kiyonten, Kecamatan Kasreman, Kamis (6/8).

Pasokan tambahan diberikan untuk membantu memenuhi kebutuhan air bersih warga setempat.

‘’Sejauh ini kami sudah menyalurkan delapan tangki air bersih, hari ini ke Desa Kiyonten untuk penambahan dropping,’’ jelas Partoyo.

BPBD memastikan distribusi air bakal terus dilakukan selama masyarakat masih membutuhkan.

Permintaan dari desa terdampak akan menjadi dasar penentuan lokasi dan waktu pengiriman berikutnya.

‘’Ke depannya, langkah dari BPBD adalah melakukan dropping air sewaktu-waktu ketika masyarakat membutuhkan,’’ ujarnya.

Namun, penanganan tidak hanya mengandalkan distribusi air menggunakan truk tangki.

BPBD juga mulai menyiapkan mitigasi jangka panjang agar persoalan serupa tidak terus berulang setiap musim kemarau.

Koordinasi lintas instansi dilakukan untuk memetakan wilayah rawan sekaligus menentukan langkah penanganan yang memungkinkan dilakukan secara permanen.

‘’Untuk langkah selanjutnya, kami berkoordinasi dengan DPRKP untuk mitigasi dan pemetaan titik-titik yang terdampak kekeringan,’’ pungkas Partoyo. (sae/den)

Editor : Hengky Ristanto
BPBD Ngawi krisis air bersih ngawi dropping air bersih kekeringan