Jawa Pos Radar Madiun – Pasokan air bersih di sejumlah wilayah Kabupaten Ngawi mulai terdampak kemarau.
Debit Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) di sedikitnya enam desa dilaporkan mengalami penurunan, terutama di wilayah utara.
Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (DPRKP) Ngawi mencatat, dari total 211 unit SPAM yang beroperasi, sejumlah instalasi mulai mengalami penurunan kapasitas air cukup signifikan.
Kepala Bidang Permukiman DPRKP Ngawi Pipit Dwi Herlina mengatakan, wilayah utara menjadi kawasan yang paling terdampak penurunan debit.
’’Kondisinya memang tidak memungkinkan untuk daerah-daerah utara, saat ini mengalami penurunan debit,’’ ujar Pipit, Selasa (1/9).
Setidaknya enam desa mulai terdampak berkurangnya pasokan air. Yakni, Desa Kyonten, Kerek, Papungan, Banyurip, Ngancar, dan Suruh.
DPRKP Ngawi pun mulai menyiapkan langkah untuk menjaga pasokan air bersih. Salah satunya menggali potensi sumber air tanah baru di wilayah yang terdampak.
’’Melalui penambahan sumur bor serta optimalisasi sumber mata air lokal,’’ ujarnya.
Persoalan berbeda terjadi pada SPAM di kawasan Kali Gede, Desa Ngancar. Debit air di lokasi tersebut sebenarnya masih mencukupi, tetapi distribusi terganggu persoalan operasional.
Pasokan listrik yang tidak stabil menjadi kendala dalam mengoperasikan pompa SPAM.
Lokasi instalasi pompa yang jauh dari gardu PLN menyebabkan tegangan listrik kerap naik-turun sehingga mengganggu kinerja mesin.
’’Walaupun airnya mencukupi, ternyata kendalanya juga masalah operasional seperti ketersediaan listrik,’’ jelas Pipit.
DPRKP Ngawi kini berkoordinasi dengan PLN untuk mencari solusi teknis agar pasokan listrik ke instalasi SPAM Kali Gede kembali stabil.
Dengan begitu, distribusi air kepada masyarakat diharapkan dapat berjalan optimal.
’’Kami sudah koordinasi PLN untuk menyelesaikan masalah ini,’’ ujarnya. (sae/den)
Editor : Hengky Ristanto