Jawa Pos Radar Madiun – Ketertarikan Cakra Wira Kalingga terhadap isu politik sejak duduk di bangku sekolah dasar membawanya ke panggung nasional. Siswa kelas XII SMAN 1 Ngawi itu berhasil lolos Parlemen Remaja DPR RI 2026.
Cakra bakal mengikuti program edukasi politik dan simulasi keparlemenan yang diselenggarakan Sekretariat Jenderal DPR RI tersebut bersama ratusan pelajar dari berbagai daerah di Indonesia.
Bagi Cakra, kesempatan mengikuti Parlemen Remaja DPR RI menjadi pengalaman yang membanggakan sekaligus membuka ruang untuk memperluas wawasan mengenai politik dan proses legislasi.
’’Nantinya kami bersama 200 peserta lain akan berdiskusi bersama para senior di DPR RI dengan tema pembahasan bullying dan beberapa isu undang-undang,’’ ujarnya.
Untuk bisa menembus program tersebut, Cakra harus melewati serangkaian tahapan seleksi. Mulai penyusunan esai, pembuatan video kampanye, psikotes, hingga wawancara.
Proses itu sekaligus menguji kemampuan public speaking, argumentasi, kepemimpinan, dan kepercayaan diri peserta. Mereka dituntut tidak sebatas mengidentifikasi persoalan sosial, tetapi juga menawarkan solusi.
’’Bisa lolos menjadi ‘Yang Terhormat’ di Gedung DPR RI memberikan pengalaman luar biasa sebab mendapat kesempatan berkolaborasi dengan teman-teman sebaya yang sama-sama kritis, berprestasi, dan ambisius dari berbagai provinsi,’’ ungkapnya.
Menurut Cakra, generasi muda perlu memiliki kepedulian terhadap politik dan kebijakan publik. Sebab, produk legislasi yang dihasilkan hari ini akan ikut menentukan arah kehidupan masyarakat pada masa mendatang.
’’Ini momentum di mana anak muda harus peduli terhadap politik dan kebijakan publik, karena keputusan-keputusan masa depan bangsa berakar dari produk legislasi hari ini,’’ terangnya.
Baca Juga: Harpelnas 2026, BPJS Ketenagakerjaan Pacitan Permudah Klaim JHT lewat JMO
Keberhasilan Cakra Wira Kalingga menembus seleksi nasional tersebut juga tidak lepas dari dukungan lingkungan sekolah. SMAN 1 Ngawi memberikan pendampingan sejak tahapan awal seleksi.
’’Sekolah memberikan banyak dukungan dan kemudahan sejak tahap awal seleksi, pendampingan juga bimbingan, dan guru membantu mempertajam sudut pandang analisis terhadap isu-isu sosial-politik yang diangkat,’’ jelasnya.
Kesempatan tersebut ingin dimaksimalkan Cakra menjelang berakhirnya masa pendidikan di SMAN 1 Ngawi. Terlebih, ketertarikannya terhadap politik tumbuh bukan dari latar belakang keluarga.
Dia menyebut kedua orang tuanya tidak berkecimpung di dunia politik. Minat tersebut justru bermula dari kebiasaannya menyaksikan berita di televisi sejak sekolah dasar.
’’Keluarga di rumah tidak ada yang tertarik membahas isu-isu politik. Ketertarikan ini tumbuh karena sejak SD saya gemar nonton berita di TV, dari situ lama-lama terbentuk,’’ urainya.
Cakra menyimpan keinginan berkontribusi membangun bangsa melalui jalur politik yang baik. Karena itu, dia merasa perlu terus belajar memahami sistem pemerintahan dan birokrasi.
’’Saya yakin ada niat baik dari pemerintah untuk membangun bangsa ini, hanya saja sistem birokrasinya perlu diperbaiki agar pelaksanaannya lebih baik lagi,’’ tuturnya.
Kepala SMAN 1 Ngawi Tjahjono Widjijanto mengatakan, Parlemen Remaja DPR RI bukan sebatas ajang kompetisi bagi siswa. Program tersebut dinilai menjadi sarana untuk mengembangkan kepemimpinan, kemampuan berpikir kritis, wawasan kebinekaan, serta kesadaran berdemokrasi.
’’Ini sejalan dengan misi pendidikan karakter, khususnya dalam menumbuhkan jiwa kepemimpinan, berpikir kritis, kebhinekaan global, serta kesadaran bela negara dan demokrasi. Melalui simulasi parlemen, nilai-nilai Pancasila bisa dipraktikkan secara nyata,’’ tuturnya.
Menurut Tjahjono, tahapan penyusunan esai dan video kampanye juga ikut mendorong budaya literasi di sekolah. Siswa terdorong melakukan riset sederhana, berdiskusi, serta mengasah kemampuan berbicara di depan publik.
’’Tentunya hal ini membuat iklim akademik di sekolah menjadi lebih dinamis,’’ imbuhnya.
Sekolah berharap pencapaian Cakra dapat menjadi pemantik bagi siswa lain untuk berani mengikuti kompetisi dan program pengembangan diri di tingkat nasional.
’’Keikutsertaan dan prestasi siswa dalam ajang ini menjadi motivasi kuat bagi adik kelas atau teman sebaya lainnya. Ini akan mendorong lahirnya agen-agen perubahan (role model) di lingkungan internal sekolah yang menginspirasi siswa lain untuk berani berprestasi dan aktif berorganisasi,’’ pungkasnya. (*)
Editor : Mizan Ahsani