Jawa Pos Radar Madiun – Peta desil kesejahteraan masyarakat Kabupaten Ngawi mengalami pergeseran cukup signifikan.
Jumlah keluarga yang tercatat dalam desil 1–3 bertambah 12.951 kepala keluarga (KK) menjadi 139.495 KK pada pemutakhiran Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN) triwulan III 2026.
Angka tersebut meningkat dibandingkan data per 29 Desember 2025. Saat itu, total keluarga pada desil 1–3 tercatat 126.544 KK.
Penyuluh Sosial Ahli Muda Dinsos Ngawi Candra Wibiarko mengatakan, perubahan data DTSEN Ngawi antara lain dipengaruhi banyaknya usulan penyesuaian desil yang diajukan masyarakat melalui operator desa.
Secara keseluruhan, jumlah keluarga dalam DTSEN triwulan III 2026 tercatat 348.233 KK.
Berkurang 903 KK dibandingkan posisi Desember 2025 sebanyak 349.136 KK.
Sebaliknya, jumlah individu justru bertambah. Dari sebelumnya 906.336 jiwa menjadi 909.148 jiwa atau naik 2.812 orang.
’’Jumlah keluarga di Ngawi tercatat 348.233 KK pada Triwulan 3 2026, turun 903 KK dari sebelumnya 349.136 KK per Desember 2025. Namun, jumlah individu justru naik menjadi 909.148 jiwa dari sebelumnya 906.336 jiwa, atau bertambah 2.812 jiwa,’’ ujar Candra, Rabu (9/9).
Pergeseran paling besar terjadi pada kelompok desil 1 dan desil 2. Jumlah keluarga desil 1 tercatat naik dari 47.355 KK menjadi 51.288 KK. Bertambah 3.933 KK.
Sementara, desil 2 bertambah lebih besar. Yakni, dari 40.421 KK menjadi 49.024 KK atau meningkat 8.603 KK.
Kenaikan juga terjadi pada desil 3, meski lebih tipis. Jumlahnya bertambah 415 KK, dari sebelumnya 38.768 KK menjadi 39.183 KK.
Secara akumulatif, ketiga kelompok tersebut kini berjumlah 139.495 KK.
’’Angka ini meningkat sebanyak 12.951 KK jika dibandingkan dengan posisi Desember 2025 yang hanya mencatatkan 126.544 KK,’’ ujarnya.
Di sisi lain, jumlah keluarga pada sejumlah kelompok desil lebih tinggi justru menyusut.
Desil 4 turun dari 36.970 KK menjadi 35.478 KK, sedangkan desil 5 berkurang dari 35.307 KK menjadi 32.711 KK.
Penurunan juga terlihat pada gabungan desil 6–10. Jumlahnya turun dari 127.689 KK menjadi 119.067 KK atau berkurang 8.622 KK.
Sementara, kategori data yang belum memiliki penetapan desil meningkat cukup tajam.
Dari sebelumnya 10.063 KK menjadi 21.482 KK. Adapun kategori data nonaktif yang pada Desember 2025 tercatat 12.563 KK sudah tidak muncul dalam pemutakhiran triwulan III 2026.
Dinsos Ngawi membuka kesempatan bagi warga yang merasa desil kesejahteraan mereka tidak sesuai dengan kondisi ekonomi aktual untuk mengajukan perbaikan melalui pemerintah desa.
Warga diminta melengkapi Kartu Keluarga (KK), Kartu Tanda Penduduk (KTP), serta dokumentasi kondisi rumah.
Antara lain foto tampak depan rumah, ruang tamu, dan kamar mandi. Data tersebut selanjutnya diinput operator desa.
Candra menegaskan, Dinsos Ngawi maupun pemerintah desa tidak menentukan sendiri posisi desil warga.
Petugas daerah bertugas melakukan pendataan dan memasukkan komponen kondisi di lapangan, sedangkan penetapan desil dilakukan pemerintah pusat melalui Badan Pusat Statistik (BPS).
’’Proses penyesuaian atau perubahan desil ini biasanya membutuhkan waktu pertiga bulan sekali. Perubahan data DTSEN ini nantinya menjadi acuan utama pemerintah dalam penyaluran bantuan sosial agar lebih tepat sasaran,’’ pungkasnya. (sae/den)
Editor : Hengky Ristanto