Jawa Pos Radar Madiun – Di antara bukit curam dan pelabuhan sibuk kota Genoa, berdiri sebuah stadion bersejarah yang tak lekang waktu.
Stadion Luigi Ferraris, rumah bagi Genoa CFC dan Sampdoria, bukan sekadar arena olahraga, melainkan panggung kehidupan kota dan simbol rivalitas paling membara di Italia.
Resmi dibuka pada 22 Januari 1911, stadion ini adalah stadion sepak bola tertua yang masih aktif di Italia.
Awalnya dibangun sebagai markas Genoa CFC, stadion kemudian menjadi rumah bersama ketika Sampdoria lahir pada 1946.
Sejak saat itu, Luigi Ferraris tak pernah berhenti menjadi titik pusat gairah sepak bola di Liguria.
Atmosfer di Tengah Kota
Berbeda dengan stadion modern yang berdiri di pinggiran kota, Luigi Ferraris terletak di distrik Marassi, jantung kota Genoa.
Tribunnya yang curam dan rapat dengan lapangan menciptakan atmosfer intens dan intim.
Kapasitas sekitar 33 ribu kursi terasa meledak ketika tifosi mengibarkan bendera raksasa dan menyalakan chant khas.
Derby della Lanterna
Keunikan paling mencolok dari stadion ini adalah derbi panas antara Genoa dan Sampdoria, dikenal sebagai Derby della Lanterna.
Suasananya penuh warna: Curva Nord dipenuhi pendukung Sampdoria dengan biru-putih-merah, sementara Curva Sud milik Genoa berwarna merah-biru.
Rivalitas ini begitu membara hingga sering disebut sebagai salah satu derbi paling atmosferik di Eropa.
Nama dan Sejarah yang Berarti
Stadion ini dinamai Luigi Ferraris, kapten Genoa sekaligus insinyur yang gugur dalam Perang Dunia I.
Setiap kali nama stadion disebut, ada makna penghormatan bagi sosok yang mengorbankan hidupnya. Inilah sisi emosional yang membuat stadion ini lebih dari sekadar bangunan olahraga.
Renovasi Besar, Identitas Tetap Terjaga
Meski usianya sudah lebih dari seabad, stadion ini beberapa kali direnovasi.
Renovasi besar pada 1989–1990 menjelang Piala Dunia Italia 1990 membuat wajah stadion berubah menjadi modern, dengan empat tribun yang simetris dan dekat ke lapangan.
Namun, identitas klasiknya tetap terjaga: sebuah stadion tua yang masih memancarkan nyawa sepak bola tradisional. (cor)
Editor : Andi Chorniawan