Jawa Pos Radar Madiun - Gelombang amarah suporter sepak bola Italia pecah di markas besar Federasi Sepak Bola Italia (FIGC), Via Allegri, Roma.
Aksi vandalisme berupa pelemparan telur mewarnai malam kelam setelah Azzurri dipastikan absen dari Piala Dunia untuk ketiga kalinya secara berturut-turut.
Kekalahan dramatis lewat adu penalti melawan Bosnia dan Herzegovina di final play-off Piala Dunia 2026 menjadi pemicu utama rasa frustrasi publik.
Italia kini harus menerima kenyataan pahit kembali menjadi penonton di turnamen sepak bola terbesar jagat raya tersebut.
Vandalisme dan Protes di Markas FIGC
Laporan dari Italia menyebutkan bahwa sekelompok fans meluapkan kemarahan mereka pada Selasa malam dengan melempari pintu masuk markas FIGC.
Baca Juga: BMKG Akhiri Peringatan Tsunami Gempa M 7,6 Sulut-Malut, Ini Penjelasan Lengkapnya
Ketegangan berlanjut hingga Rabu pagi (1/4), saat Presiden FIGC, Gabriele Gravina, tiba di kantor dan disambut oleh spanduk suporter yang mendesaknya untuk segera meletakkan jabatan.
Ini merupakan kegagalan kedua Italia menembus Piala Dunia di bawah kepemimpinan Gravina, sebuah catatan yang dianggap sebagai "bencana nasional" bagi negara pemegang empat gelar juara dunia tersebut.
Tekanan dari Pemerintah dan Tokoh Sepak Bola
Desakan mundur tidak hanya datang dari tribun penonton. Menteri Olahraga Italia, Andrea Abodi, secara terbuka meminta Gravina untuk bertanggung jawab.
"Sepak bola Italia harus dibangun ulang dari nol," tegas Abodi yang juga mengharapkan adanya perubahan radikal di jajaran kepemimpinan federasi.
Baca Juga: Pembagian Grup Piala Dunia 2026: Adu Tajam Mbappe vs Haaland di Grup I
Kritik tajam juga dilontarkan oleh tokoh-tokoh berpengaruh lainnya.
Presiden Napoli Aurelio De Laurentiis mendesak perubahan drastis pada sistem Serie A, termasuk pengurangan jumlah tim dari 20 menjadi 16 klub.
Luciano Moggi, mantan eksekutif Juventus, menggunakan perumpamaan keras, menyebut sepak bola Italia seperti ikan yang membusuk dari kepalanya.
Hal itu merujuk pada buruknya manajemen di tingkat atas.
Sementara itu, Legenda Italia Gianfranco Zola menekankan perlunya fokus pada pembinaan pemain muda dan membangun pondasi dari bawah.
Baca Juga: Lagu Sikilku Iso Muni OST Na Willa, Judul Tak Biasa tapi Lirik Penuh Makna
Nasib Gattuso dan Masa Depan Timnas
Di tengah badai ini, posisi Rino Gattuso sebagai pelatih kepala turut menjadi sorotan.
Presiden Senat Italia, Ignazio La Russa, menyebut Gattuso sebagai sosok ideal untuk karakter Italia saat ini, namun ia juga bermimpi melihat Jose Mourinho memimpin tim nasional jika terjadi perubahan manajerial.
La Russa juga mengusulkan regulasi ketat bagi klub Serie A untuk wajib memainkan setidaknya empat pemain lokal Italia di setiap menit pertandingan demi regenerasi pemain.
Meskipun tekanan publik sangat masif, Gabriele Gravina hingga saat ini masih menolak untuk mengundurkan diri.
Namun, ia telah menjadwalkan pertemuan umum FIGC pada Kamis (2/4) untuk membahas masa depan organisasi dan nasib sepak bola Italia ke depan. (naz)
Editor : Mizan Ahsani