Jawa Pos Radar Madiun - Bek tangguh Fortuna Sittard sekaligus bintang Timnas Indonesia, Justin Hubner, meluapkan kekesalannya terhadap NAC Breda terkait polemik "Paspoortgate" yang sempat menghebohkan publik sepak bola Belanda dan Indonesia.
Hubner menilai tindakan NAC Breda yang melaporkan status paspor sejumlah pemain, termasuk rekannya Dean James, adalah tindakan konyol yang dipicu oleh rasa frustrasi setelah kekalahan memalukan.
Polemik Paspoortgate bermula ketika NAC Breda mempertanyakan status Dean James sebagai pemain non-EU setelah mereka dibantai 6-0 oleh Go Ahead Eagles.
Akibat investigasi tersebut, sejumlah pemain Timnas Indonesia yang berkarier di Belanda sempat dilarang bertanding sebelum akhirnya masalah ini dinyatakan tuntas pekan ini.
Usai laga Fortuna Sittard melawan NAC Breda (13/4), Hubner pun tak ragu melayangkan sindiran pedas.
"Tidak menyenangkan saat Anda dilarang berlatih dan bermain karena masalah paspor itu. Jika Anda dihancurkan 6-0 oleh Go Ahead, Anda tidak berhak mulai berbicara tentang paspor," tegas Hubner sebagaimana dilansir dari vi.nl.
Ia juga membela Dean James yang menjadi sasaran laporan tersebut.
"Ini tentang Dean James, tapi bukan berarti dia mencetak lima gol melawan NAC. Dia hanya bek kiri yang melakukan tugasnya. Ini skandal konyol dari manajemen klub NAC."
Meskipun dikenal vokal dan keras di lapangan, Hubner tetap menunjukkan sisi sportifnya. Pada laga yang sama, ia sempat melakukan tekel keras kepada gelandang lawan, Lewis Holtby, yang mengakibatkan cedera robek pada kaki pemain tersebut.
Sadar akan kerasnya insiden tersebut, Hubner langsung mengirimkan pesan permintaan maaf secara terbuka melalui akun Instagram pribadinya.
"Temanku, saya harap kaki Anda tidak apa-apa. Tidak pernah ada niat saya untuk mengenaimu seperti itu. Semoga Anda segera pulih dan kembali segera," tulis Hubner dalam unggahan story-nya.
Pesan tersebut disambut baik oleh Holtby yang membalas dengan bijak. "Tidak usah khawatir, hal seperti itu memang bisa terjadi dalam sepak bola. Saya menghargai kata-katamu."
Editor : Mizan Ahsani