Oleh: Arfinanto Arsyadani
Ketika aku masih kecil, aku selalu menyambut kedatangan Tahun Baru dengan tak sabar dan penuh kegembiraan, seperti halnya dengan anak-anakku sekarang.
Sejak beberapa hari yang lalu, belum pernah sehari terlewat tanpa kumendengar mereka menyebut-nyebut Tahun Baru.
Seakan-akan mereka hendak memperingatkan aku bahwa Tahun Baru akan datang dan pasti datang, dan agar aku jangan sampai melupakan hal ini.
Dan sebutan Tahun Baru itu selalu mendatangkan bayangan-bayangan seram di bulu mataku.
Pakaian baru, kue keranjang, kue-kue lain, kiriman uang orang tua, angpau, hadiah anak-anak.
Dan semua bayangan kecil ini berlindung di bawah bayangan yang lebih seram lagi: bon utang baru kepada tauke (majikan)! Satu-satunya jalan keluar.
Tapi jalan keluar ini mendatangkan akibat yang tiada akan habisnya selama aku hidup agaknya, atau setidaknya selama aku masih menjadi seperti sekarang: buruh kecil.
Akibatnya adalah bahwa hadiah tahunan yang akan kuterima di akhir tahun nanti hanya akan ditukar dengan bon utang jalan keluar itu.
Dan terpaksa membuat bon baru, tutup lubang gali lubang!
...........
Cerpen berjudul Buruh dan Sintjhia karya Asmaraman Sukowati Kho Ping Hoo ini pertama kali terbit di mingguan Star Weekly no. 684 (7 Februari 1959).
Kho Ping Hoo menyuguhkan gambaran kehidupan seorang buruh yang terhimpit oleh kewajiban-kewajiban sosial yang datang setiap tahun, tak terkecuali saat Imlek.
Penulis cerita silat legendaris ini mengulik lebih dalam sisi lain perayaan Imlek bagi mereka yang hidup dalam ekonomi pas-pasan.
Pemberian angpau, pakaian baru, dan kiriman kue menjadi rutinitas tak terelakkan.
Tradisi baik saat Imlek ini tentu membawa kegembiraan tersendiri. Meski, tokoh utama dalam cerpen ini diliputi kecemasan karena harus terbelit utang tak berkesudahan.
Kho Ping Hoo menggambarkan keinginan seorang buruh untuk memenuhi ekspektasi sosial tanpa disertai kemampuan finansial.
Berbagai cara dilakukan demi membuat keluarganya tetap bahagia di hari istimewa.
Tokoh utama dalam cerita ini menyadari betapa seharusnya ia bisa merayakan Imlek tanpa beban utang yang mencekik.
Meskipun pada akhirnya dia tetap terjebak dengan pola kehidupan gali lubang tutup lubang.
Kho Ping Hoo mengajarkan kepada kita untuk melihat lebih dalam makna sebuah perayaan.
Tak sekadar kebiasaan yang bersifat permukaan. Imlek bukan semata tentang pakaian baru atau kue keranjang, tetapi lebih kepada nilai kebersamaan dan perwujudan rasa syukur.
Meski ditulis dengan latar belakang waktu yang berbeda, cerpen ini cukup menggugah kita. Semoga perayaan Imlek kali ini membawa kedamaian dan keberkahan bagi semua.
...........
Biarlah, besok akan kubuat bon baru. Tidak apa, memang aku seorang buruh.
Tapi akan beginikah selamanya? Mudah-mudahan tidak.
Kalau terus menerus begini, sedangkan anak-anakku yang makin banyak ini makin lama makin besar dan membutuhkan pengeluaran uang lebih banyak, maka akan celaka tiga belas benar-benar aku. (*)
Editor : Mizan Ahsani