Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Ketika Dalang Bercerita lewat Kata: Promedia Jembatani Lakon Wayang hingga Dapat Dinikmati Ribuan Pembaca

Ki Damar • Jumat, 4 Juli 2025 | 20:12 WIB
DALANG DAN CERPENIS: Grendy Damara alias Ki Damar, dalang muda asal Tegalarum, Magetan. (JAWAPOS TV MADIUN)
DALANG DAN CERPENIS: Grendy Damara alias Ki Damar, dalang muda asal Tegalarum, Magetan. (JAWAPOS TV MADIUN)

Jawa Pos Radar Madiun - Saya seorang dalang. Saya menghabiskan waktu dari pentas ke pentas, menata wayang kulit satu per satu, menyuarakan tokoh, menghidupkan cerita.

Tapi dunia berubah begitu cepatnya. Pandemi Covid-19 datang seperti lakon Bharatayudha yang mendadak pecah perang. Tidak ada panggung, tidak ada penonton.

Tapi justru dari situ, saya menemukan panggung lain. Bukan panggung yang bisa disentuh, tapi bisa dibaca. Saya mulai menulis.

Hidup dari mendalang adalah kebanggaan. Tapi zaman tak selamanya memberi ruang yang sama.

Saat itulah tawaran datang dari Jawa Pos Radar Madiun. Saya diminta untuk menulis cerita wayang. Mengubah lakon yang biasa dipentaskan menjadi sebuah cerita pendek atau cerpen.

Dari situ, cerita-cerita yang dulu hanya terdengar di bawah lampu blencong, mulai menjelma menjadi artikel yang dibaca ribuan orang.

Awalnya memang sepi. Dari hanya puluhan orang, naik ke ratusan. Dalam dua bulan, angkanya segitu-gitu saja.

Tapi kerja keras memang tidak pernah berkhianat kepada kita. Memasuki bulan ketiga, ribuan pembaca mulai datang membaca cerita saya.

Menjadi penulis dari latar belakang dalang memang tidak mudah.

Menyuarakan karakter pewayangan lewat kata-kata jauh berbeda dari menyuarakannya di balik kelir. Tapi satu hal yang sama, semuanya datang dari hati dan suara rakyat.

Dari penonton yang datang membawa keluh kesah, dari obrolan usai pentas yang dipenuhi harapan, kritik, atau sekadar curhat soal hidup.

Semua itu saya tampung, lalu ditulis dalam bentuk cerpen.

Lakon bukan sekadar cerita perang, tapi juga cermin kehidupan.

Tulisan adalah cara baru untuk menyampaikan isi jiwa dalang, sebagai juru bicara mereka yang tak bersuara.

Bagi penulis kecil seperti saya, rubrik cerpen di Jawa Pos Radar Madiun ini bukan hanya media menulis, tapi jembatan antara dunia pewayangan dan dunia literasi.

Di sinilah saya percaya, bahwa dunia baca mampu menyaingi dunia medsos dan live show. Bahkan lebih. Mampu membuka imajinasi yang tak terbatas.

Berbeda dengan pertunjukan langsung, pembaca bisa meresapi tiap tokoh, membayangkan tiap adegan, dan menjelajahi dunia pewayangan di dalam pikirannya sendiri.

Imajinasi menjadi panggung utama, tanpa batas, tanpa kelir, tanpa gamelan, tapi tetap hidup.

Selama 4 Tahun Promedia berdiri, saya akhirnya merasakan betul telah dijembatani kepada para penikmat cerita-cerita wayang.

Di tengah riuhnya dunia digital, tulisan tetap punya tempat. Tentunya bagi dalang seperti saya, menulis adalah cara mendalang di zaman baru. (*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#dalang #cerpen #4 Tahun Promedia #Lakon #wayang #Cerita