Oleh:
Herdanang Prima Surya Wiyata*
ROKOK elektronik atau vape telah mengalami peningkatan popularitas dalam satu dekade terakhir, terutama di kalangan remaja dan dewasa muda yang menganggap produk ini sebagai alternatif lebih aman dibandingkan rokok tradisional. Padahal, sejumlah penelitian menunjukkan bahwa kandungan vape—terutama nikotin dan bahan kimia aerosol—dapat memiliki efek signifikan terhadap kesehatan mental, bukan hanya kesehatan fisik seperti yang sering dibahas (Anderson, 2022).
Persepsi salah bahwa vape lebih aman sering diperkuat oleh pemasaran agresif dan desain produk yang menarik perhatian generasi muda, sehingga menyebabkan angka penggunaan vape meningkat dengan cepat (Mahmoud & al., 2023). Dalam konteks kesehatan masyarakat, fenomena ini mengkhawatirkan karena penggunaan nikotin dikenal dapat memengaruhi fungsi otak melalui perubahan neurotransmitter yang berperan dalam suasana hati dan respons stres (Lee, 2022). Oleh karena itu, penting untuk memahami secara mendalam bagaimana vape dapat menimbulkan dampak serius terhadap kesehatan mental pengguna.
Lebih jauh lagi, konsumsi vape juga berkaitan dengan meningkatnya paparan media sosial yang memromosikan gaya hidup “vaping culture”, sehingga membuat remaja semakin rentan terhadap tekanan sosial untuk mencoba atau terus menggunakan vape (Harrington, 2023).
Tekanan sosial ini memperburuk hubungan antara penggunaan vape dan gangguan mental karena remaja berada pada fase perkembangan emosional yang belum stabil dan mudah terpengaruh. Dengan memahami seluruh faktor ini, kajian mengenai dampak vape terhadap kesehatan mental menjadi penting sebagai dasar kebijakan dan intervensi kesehatan masyarakat. Seperti disebutkan oleh (Walker, 2022), “perubahan perilaku konsumsi nikotin pada generasi muda merupakan isu kesehatan modern yang harus diperhatikan secara serius.”
Masalah utama yang muncul dari penggunaan vape adalah meningkatnya gejala gangguan kesehatan mental seperti kecemasan, depresi, stres psikologis, dan ketergantungan nikotin. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa pengguna vape memiliki risiko 1,5–2 kali lebih besar mengalami kecemasan dibandingkan individu yang tidak
menggunakan nikotin (Kim & Park, 2022). Salah satu penyebabnya adalah mekanisme kerja nikotin yang memberikan sensasi relaksasi sementara namun diikuti oleh peningkatan kecemasan setelah efek awal menghilang. Akibatnya, pengguna cenderung kembali mengonsumsi vape untuk mengurangi ketidaknyamanan tersebut, menciptakan lingkaran adiksi nikotin yang memengaruhi stabilitas mental (Rodriguez, 2022).
Selain kecemasan, masalah lain yang ditemukan adalah meningkatnya gejala depresi pada pengguna vape. Studi longitudinal oleh (Ferguson, 2023) menunjukkan bahwa remaja yang menggunakan vape secara rutin mengalami kemungkinan dua kali lipat menunjukkan gejala depresi dalam satu tahun. Efek depresi ini berkaitan dengan ketidakseimbangan neurotransmitter seperti dopamin dan serotonin yang dipicu oleh paparan nikotin kronis.
Bagi remaja, gangguan suasana hati tersebut dapat mengganggu fungsi akademik, hubungan sosial, dan perkembangan emosional. Sementara itu, bagi dewasa muda, depresi akibat penggunaan vape berpotensi memperburuk masalah produktivitas kerja dan kualitas hidup secara keseluruhan.
Masalah kesehatan mental yang dihadapi pengguna vape juga berkaitan dengan tekanan ekonomi dan sosial. Pengguna yang mencoba berhenti sering mengalami gejala putus nikotin seperti iritabilitas, gangguan konsentrasi, dan mood swings (Taylor, 2023).
Hal ini dapat mengganggu rutinitas harian mereka dan memberikan dampak terhadap pekerjaan atau hubungan interpersonal. Dengan demikian, masalah yang ditimbulkan vape tidak hanya bersifat biologis, tetapi juga psikososial.
Akar persoalan yang menyebabkan vape berefek negatif terhadap Kesehatan mental berhubungan langsung dengan kandungan nikotin dan bahan kimialainnya yang terdapat dalam cairan vape. Nikotin merupakan zat adiktif yang bekerja cepat dalam memengaruhi sistem saraf pusat. Menurut (Liu, 2022), nikotin meningkatkan pelepasan dopamin secara instan sehingga memberikan sensasi euforia sesaat.
Namun, efek ini tidak berlangsung lama, dan penurunan tajam dopamin setelahnya membuat pengguna merasa gelisah, kosong, atau tertekan. Kondisi ini memicu perilaku penggunaan ulang sebagai cara kompensasi emosional
Akar persoalan lain adalah kurangnya pengetahuan masyarakat mengenai bahaya vape terhadap mental. Banyak remaja hanya mengetahui bahwa vape “lebih aman” daripada rokok biasa, tanpa memahami kandungan nikotin yang sama atau bahkan lebih tinggi (Santos, 2022).
Misinformasi ini diperparah oleh maraknya iklan dan influencer media sosial yang menggambarkan vape sebagai bagian dari gaya hidup modern. Ketiadaan edukasi yang memadai dalam kurikulum sekolah atau keluarga semakin memperburuk kondisi ini.
Selain faktor biologis dan edukasi, akar persoalan juga mencakup aspek psikologis dan sosial. Beberapa individu menggunakan vape sebagai mekanisme coping untuk mengatasi stres, tekanan akademik, atau masalah hubungan sosial.
Sayangnya, penggunaan vape sebagai pelarian emosional hanya memberikan kelegaan jangka pendek dan memperburuk kondisi mental dalam jangka panjang.
Dengan kata lain, vape digunakan sebagai solusi cepat, padahal sebenarnya merupakan salah satu penyebab bertambahnya masalah psikologis.
Untuk mengatasi dampak vape terhadap kesehatan mental, gagasan yang dapat dikembangkan adalah pendekatan multidimensi yang melibatkan sektor pendidikan, kesehatan, keluarga, dan media. Pertama, pendidikan mengenai bahaya vape harus diperkuat, baik melalui institusi formal seperti sekolah maupun platform digital.
Edukasi ini sebaiknya menekankan pada dampak kesehatan mental, bukan hanya kesehatan fisik, karena sebagian besar remaja lebih terpengaruh oleh isu psikologis (Ahmed, 2022). Dengan pemahaman yang komprehensif, diharapkan remaja lebih mampu membuat keputusan yang bijak mengenai penggunaan vape.
Gagasan berikutnya adalah peningkatan layanan konseling dan dukungan psikologis bagi para pengguna vape yang mengalami gejala kecemasan atau depresi. Layanan ini dapat diintegrasikan dalam puskesmas, layanan kesehatan sekolah, maupun platform konseling online (Harrison, 2023). Dengan demikian, pengguna yang mulai merasakan gangguan psikologis memiliki akses mudah untuk mendapatkan bantuan profesional.
Tidak kalah penting, gagasan pembatasan promosi vape di media sosial perlu dipertimbangkan. Pemerintah dapat bekerja sama dengan platform digital untuk mengontrol konten yang mempromosikan penggunaan vape atau memberikan informasi menyesatkan mengenai keamanannya (Thomas, 2022). Upaya ini penting untuk meminimalkan pengaruh buruk dari media sosial, terutama bagi generasi muda yang sangat rentan.
Terakhir, gagasan pembentukan komunitas support group bagi pengguna vape yang ingin berhenti dapat menjadi strategi yang efektif. Komunitas ini dapat memberikan dukungan emosional, berbagi pengalaman, dan memfasilitasi proses pemulihan mental (Nguyen, 2022)Dengan dukungan sosial yang kuat, pengguna lebih termotivasi untuk beralih ke gaya hidup sehat.
Solusi untuk mengatasi dampak vape terhadap kesehatan mental harus melibatkan berbagai strategi yang saling melengkapi. Solusi pertama adalah memperketat regulasi terhadap penjualan dan distribusi vape, terutama yang mengandung nikotin tinggi. Pemerintah perlu membatasi akses terhadap vape bagi remaja dan memperketat standar keamanan produk agar risiko kesehatan dapat dikurangi (Thomas, 2022). Regulasi ini juga harus mencakup pelarangan iklan yang mempromosikan vape sebagai produk “aman” atau “bebas risiko”.
Solusi kedua adalah kampanye kesehatan mental yang terstruktur dan masif.
Kampanye ini dapat dilakukan melalui sekolah, lembaga kesehatan, maupun platform digital. Kampanye harus menyoroti hubungan antara nikotin dan gangguan
kesehatan mental, sehingga masyarakat memahami bahaya vape secara utuh (Walker, 2022)Kampanye berbasis komunitas dapat melibatkan tokoh publik, influencer positif, dan ahli kesehatan sehingga pesan yang disampaikan lebih mudah diterima.
Solusi ketiga adalah menyediakan program berhenti nikotin (cessation program) yang mudah diakses dan ramah pengguna. Program ini dapat mencakup konseling psikologis, terapi pengganti nikotin, serta pelatihan manajemen stres (Taylor, 2023).Dengan adanya program terintegrasi, pengguna dapat mengurangi ketergantungan nikotin secara bertahap sambil memperbaiki kondisi kesehatan mental mereka.
Solusi keempat adalah penguatan peran keluarga sebagai lingkungan terdekat pengguna vape. Orang tua perlu diberikan edukasi tentang risiko vape dan cara mendukung anak yang ingin berhenti menggunakan nikotin (Mahmoud & al., 2023). Keluarga yang suportif dapat menjadi faktor pelindung yang signifikan dalam menjaga kesehatan mental anak dan mencegah adiksi.
Akhirnya, solusi jangka panjang yang perlu dilakukan adalah peningkatan riset mengenai pengaruh vape terhadap kesehatan mental di berbagai kelompok usia. Dengan data yang lebih kuat dan mutakhir, pemerintah dan tenaga kesehatan dapat membuat intervensi yang lebih efektif dan sesuai kebutuhan masyarakat (Ferguson, 2023)
Vape terbukti berdampak negatif terhadap kesehatan mental karena kandungan nikotin yang memicu kecemasan, depresi, dan ketergantungan. Pengguna, terutama remaja, lebih rentan mengalami gangguan emosi akibat perubahan neurotransmitter serta pengaruh lingkungan dan media sosial. Minimnya edukasi membuat vape dianggap aman, padahal risikonya besar. Oleh sebab itu, diperlukan edukasi, regulasi ketat, dan dukungan psikologis untuk mencegah serta mengatasi dampak buruk penggunaan vape.
Daftar Pustaka
(Ahmed, R. (2022). Mental Health Support Approaches for Nicotine Users. Journal of Behavioral Health.
Anderson, L. (2022). Electronic Cigarette Use and Mental Wellbeing. International Journal of Public Health.
Ferguson, K. (2023). Longitudinal Study of Vaping and Depression in Adolescents. Youth Health Research.
Harrington, T. (2023). Social Media Exposure and Vaping Behavior. Digital Society Review.
Harrison, P. (2023). Integrating Mental Health Services for Vape Users. Journal of Clinical Psychology.
Lee, H. (2022). Neurochemical Impact of Nicotine on Mood Regulation. Neuroscience
Today.
Liu, M. (2022). Addictive Properties of Nicotine and Mental Health Outcomes. Neurobiology Review.
Mahmoud, A., & al., et. (2023). Parental Roles in Preventing Adolescent Vaping. Family Health Journal.
Nguyen, M. (2022). Therapeutic Approaches to Vape Addiction. Clinical Psychology
Insight.
Santos, D. (2022). Misconceptions About Vape Safety. Global Public Health Review.
Taylor, B. (2023). Nicotine Withdrawal and Mental Health Symptoms. Addiction Medicine Reports.
Thomas, P. (2022). Regulation of Electronic Cigarettes and Public Safety. Policy and Health Journal.
Walker, S. (2022). Youth Nicotine Trends and Psychological Risks. Journal of
Adolescent Health.
*Penulis Mahasiswa Universitas Aisyiyah Surakarta D-III Keperawatan
Editor : Mizan Ahsani