PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Gelombang aksi penolakan kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) di Pacitan belum mereda. Kemarin (6/9), puluhan mahasiswa gabungan STKIP PGRI Pacitan dan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Pacitan turun ke jalan menolak keputusan pemerintah tersebut. Unjuk rasa itu diikuti aksi teatrikal mendorong puluhan sepeda motor. "Aksi ini bentuk protes mahalnya harga BBM," kata Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) STKIP PGRI Pacitan Yusuf Mukib.
Menurut dia, kebijakan menaikkan harga BBM jenis pertamax, pertalite, dan solar di waktu bersamaan kurang tepat untuk dilakukan saat ini. Hal tersebut bakal membuat perekonomian masyarakat kembali terpuruk. Mengingat kondisi pandemi Covid-19 belum sepenuhnya mereda. ‘’Kami minta pemkab dan DPRD berpihak pada aspirasi mahasiswa dan keresahan masyarakat tentang kenaikan BBM ini,’’ ujarnya.
Dalam unjuk rasa kemarin, mahasiswa juga berorasi di depan gedung DPRD. Aksi tersebut bentuk kekecewaan lantaran tidak diperbolehkan masuk ke gedung wakil rakyat itu. Padahal, keperluannya menyampaikan aspirasi kepada wakil rakyat. ‘’Kami berharap bisa bertemu ketua dan wakil DPRD serta semua pimpinan komisi. Tapi, hanya ada beberapa perwakilan dari komisi dan anggota dewan,’’ keluhnya.
Yusuf juga mendesak pemkab memantau penyaluran bantuan langsung tunai (BLT) BBM. Pihaknya tidak ingin dana ganti subsidi tersebut salah sasaran. Pun penyalurannya tidak transparan. ‘’Kami sadar kewenangan pemkab juga terbatas, tapi setidaknya penyaluran BLT diawasi sungguh-sungguh,’’ pintanya.
Terpisah, Ketua Fraksi Partai Demokrat DPRD Pacitan Arif Setyo Budi menyampaikan bahwa para pimpinan sedang tugas dinas di luar daerah. Sehingga tidak dapat menemui para mahasiswa. Pihaknya berjanji menyampaikan aspirasi tersebut ke DPRD Jawa Timur dan DPR. Apalagi, fraksinya juga menolak kenaikan harga BBM. ‘’Kami mendukungnya,’’ tegas Arif. (gen/c1/cor)
Editor : Hengky Ristanto