Mereka telah menjalani pendidikan selama enam bulan dan dibekali dengan kemampuan kepemimpinan pembelajaran dan pedagogi. Bahkan, Senin (19/12) mereka telah menjalani pendidikan tahap akhir dengan menggelar pameran lokakarya di aula SMKN 2 Pacitan.
Kepala Dinas Pendidikan (Dindik) Pacitan Budiyanto menjelaskan lokakarya yang dipamerkan itu merupakan hasil inovasi para calon guru penggerak.
Mereka memang dituntut menciptakan program yang berdampak dan berorientasi murid selama mengikuti PGP. ‘’Sebanyak 76 calon guru penggerak ini masuk dalam angkatan ke-5 wilayah mitra Jatim. Mereka merupakan angkatan pertama di Pacitan,’’ katanya.
Menurut Budi, PGP sangat relevan dengan kebutuhan pendidikan Indonesia saat ini. Melalui program ini, paradigma dan pola pikir guru dipertajam. Tiga modul dalam program ini mengarahkan pada penciptaan murid berkualitas secara holistik yang bukan hanya berdasarkan kemampuan akademik.
Sebagai contoh, sebelumnya prestasi murid hanya diukur dari nilai ujian nasional. Adapun anak-anak berprestasi seni, olahraga, dan lainnya cenderung terabaikan. Melalui metode diferensiasi, guru didorong menghargai perbedaan potensi murid.
Selain itu, mereka juga diprospek untuk menjadi calon kepala sekolah. ‘’Selain jadi tenaga pengajar, guru penggarak ini juga merupakan calon kepala sekolah dan pengawas sekolah,’’ terang mantan Inspektur Inspektorat itu.
Terpisah, Kasupokja Transformasi Digital Balai Besar Guru Penggerak (BBGP) Kemendikbudristek wilayah Provinsi Jatim M Toni Satria Dugananda mengungkapkan, keberadaan guru penggerak merupakan agen perubahan dunia pendidikan di Indonesia.
Karena itu, dia berharap akan muncul semangat dari para pengajar tersebut untuk meningkatkan kualiatas pendidikan di daerah mereka masing-masing.
‘’Kalau memang mengaku guru profesional jadilah guru penggerak. Kami harapkan muncul dari diri sendiri, bukan masalah usia, mau atau tidak saja,’’ ujarnya. (gen/her) Editor : Hengky Ristanto