Indar mengatakan, upaya konservasi tersebut digalakkan bersama warga Desa Kembang, Kecamatan Pacitan, sejak 2013 lalu. Ribuan batang mangrove telah ditanam di kawasan muara Sungai Grindulu. Diakui Indar, upaya penghijauan ini tak selalu berjalan mulus.
‘’Memang potensi hidup mangrove hanya 20 persen. Bukan karena sulit ditanam tapi sulit dirawat,’’ sebutnya.
Menurut Indar, sampah menjadi musuh utama mangrove. Pohon mangrove muda mudah patah saat tersapu arus yang membawa batang kayu. Sementara, Sungai Grindulu kerap membawa sampah. Baik bongkahan kayu maupun limbah rumah tangga. ‘’Tidak mudah memang. Beruntungnya, kelompok masyarakat di sini giat merawat mangrove,’’ ungkapnya.
Bermodal ketekukan, ratusan pohon ditanam ulang di setiap kesempatan. Bahkan tinggi sebagian pohon telah mencapai dua meter lebih. Tak hanya warga lokal, setahun belakangan juga banyak warga luar desa yang ingin ikut serta menanam mangrove.
Kini usaha para pegiat lingkungan bersama warga Kembang mulai membuahkan hasil. Kawasan di sudut teluk Pacitan dikelola sebagai tempat wisata yang dikunjungi ratusan pengunjung saban bulan. Mayoritas menghabiskan waktu sore hari atau pagi. ‘’Sekarang mulai terlihat hijau. Tapi pekerjaan kita masih jauh dari rampung,’’ kata Indar. (gen/naz) Editor : Hengky Ristanto