Supinardi Utomo, salah seorang pedagang hewan asal Desa Candi, Pringkuku, mengatakan dagangannya laris manis dipesan jelang Idul Adha. Menurut dia, trend masyarakat saat ini lebih memilih kambing daripada sapi untuk berkurban. ‘’Karena banyaknya penyakit yang menyerang sapi,’’ kata laki-laki 44 tahun itu kemarin (4/6).
Dalam sehari, Nardi - sapaan akrabnya - mampu menjual 15 ekor kambing. Jumlah tersebut naik tiga kali lipat dari Lebaran Haji tahun lalu. Saat itu, rerata hanya lima ekor sehari. ‘’Jumlah itu terus naik jelang Idhul Adha saat ini,’’ ujarnya semringah.
Meski Lebaran Haji masih empat pekan lagi, Nardi sudah mendapat pesanan puluhan ekor kambing. Itu lantaran masyarakat khawatir harga kambing melejit mendekati Idul Adha. Sehingga, memilih memesan jauh-jauh hari sebelumnya. Tahun ini dia menambah stok dari sebelumya 50 ekor menjadi 80 ekor. ‘’Sebagian sudah dipesan,’’ ungkapnya.
Harga kambing juga masih terbilang standard. Seekor kambing berukuran sedang antara Rp 2,5 juta hingga Rp 3 juta. Dengan banyaknya pesanan dia optimistis angka penjualannya akan meningkat. ‘’Harga belum naik karena belum mepet Idhul Adha,’’ sambungnya.
Sementara Muhamad Zainuri, salah seorang pembeli asal Desa Mlati, Arjosari, lebih memilih kambing daripada sapi untuk berkurban. Alasannya, kambing lebih terjaga kesehatanya dan tidak terinfeksi PMK. ‘’Kalau sapi banyak penyakit, kami khawatir terkena lato-lato (sebutan LSD),’’ dalihnya. (hyo/sat) Editor : Hengky Ristanto