Langkah kaki itu simbol optimisme. Derapnya lurus ke depan. Serempak tanda selaras seirama. Tanpa menafikkan masa lalu, masa depan adalah harapan. Begitulah filosofi tahun baru dimaknai.
======================
MALAM 1 Sura (1 Muharam) bermakna sakral bagi masyarakat Pacitan. Menyambut tahun baru Jawa dan Islam (hijriah) tersebut, sebagian masyarakat melaksanakan berbagai ritual. Salah satunya tradisi mlaku suran. Start pukul 20.00 dari Pendapa Mas Tumenggung Djogokarjo, Pacitan dan finish di Pantai Pancer Door.
Tradisi ini diikuti Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji, para birokrat dan masyarakat. Kebanyakan pesertanya orang tua. Namun karena keunikannya, prosesi ini juga diminati anak muda. ‘’Ini sebagai media intropeksi, apa yang sudah kita lakukan dalam setahun dan upaya yang akan kita lakukan di tahun baru,’’ kata Mas Aji, sapaan bupati.
Malam semakin larut. Namun, hawa dingin tak membuat antusiasme perserta surut. Ratusan warga, baik dewasa maupun anak-anak, berduyun-duyun berjalan menuju halaman panggung Pantai Pancer Door. Di tempat ini suasana pun berubah riuh rendah.
Sebab, mereka sudah ditunggu tempelangan (nasi yang dibungkus daun pisang) atau takir sebagai santap malam. Selanjutnya mereka menggelar doa mujahadah, atau doa untuk mengiringi perjuangan. ‘’Menghormati bahwa leluhur kita ada tradisi seperti itu, kita hormat,’’ tuturnya.
Bagi Mas Aji, mlaku suran merupakan wujud rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Keberhasilan melewati beragam dinamika selama satu tahun menjadi salah satu alasannya. Ada yang merayakan kemajuan karirnya. Ada yang mensyukuri punya keluarga baru. Ada pula yang berhasil mengatasi rintangan besar dalam hidup.
Semua menandai malam 1 Sura sebagai titik tolak perubahan menuju masa depan yang lebih baik. ‘’Meskipun ada mobil dan sepeda motor kita perlu sesekali berjalan kaki, agar kita merasakan ngrekasani (sengsara), agar ke depan lebih baik lagi,’’ ujarnya.
Dari titik tolak ini orang-orang menyusun rencana. Sebuah daftar panjang berisi harapan atau resolusi. Esensi ini yang membuat perayaan malam 1 Sura sekaligus 1 Muharam bukan sekadar pesta pora. ‘’Perjalanan tadi saya ibaratkan sebuah proses berjuang, sebuah proses tirakat atau ikhtiar untuk mencapai tujuan,’’ ungkapnya.
Malam 1 Sura dianggap sakral lantaran terdapat momen untuk instropeksi diri. Biasanya tradisi ini diiringi prihatin dengan tapa brata atau ngesu budi. ‘’Perlu kiranya bersyukur dengan capaian satu tahun lalu. Mudah-mudahan tahun depan kita semua mendapatkan hasil yang lebih baik, cita-cita bisa terkabul,’’ harap Mas Aji.*** (sat)
Editor : Andi Chorniawan