PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun - Pemulasaran jenazah relatif jarang diperbincangkan. Sebab, lazimnya umumnya dilakukan modin alias petugas khusus di desa atau kelurahan. Tugasnya, mengkoordinasi sekaligus merawat jenazah dibantu keluarga almarhum.
Hanya, dalam kasus tertentu penanganan jenazah butuh perlakuan berbeda. Terutama jika yang meninggal dunia seorang muslimah. Sesuai syariat agama, petugas pemulasara haruslah juga berjenis kelamin sama. Fakta tdersebut memantik kegelisahan kalangan emak-emak di Pacitan.
Mereka pun sepakat membentuk kelompok pemulasara jenazah perempuan. Pelatihan bagi relawan sebagai langkah awal. Kelak mereka diharapkan turun langsung saat ada warga perempuan meninggal.
‘’Saya kira ke depan (peran pemulasara jenazah perempuan) sangat dibutuhkan. Dan memang sudah saatnya,’’ kata Eni Setyowati, pemrakarsa gagasan tersebut, Jumat (11/8).
Upaya wewujudkan ide tersebut, lanjut Eni, dilakukan dengan menghimpun relawan perempuan dari beragam komunitas. Mereka lantas diundang workshop. Pelatihnya tokoh permpuan yang memiliki keahlian khusus dalam pemulasaraan jenazah perempuan.
Meski langkah tesebut tergolong baru, Eni yakin ke depan mampu menjawab persoalan pemulasaraan jenazah muslimah. Dia berharap akan semakin banyak relawan perempuan yang mendedikasikan sebagian waktunya untuk perawatan jenazah.
‘’Semakin banyak relawan perempuan tentu semakin baik. Jadi kalau yang meninggal perempuan ndak usah repot-repot cari petugas. Sementara jabatan modin umumnya laki-laki,’’ kata Eni yang juga kepala Dinas Penanaman Modal dan Perizinan Satu Pintu (DPMPTSP) Pacitan ini.
Yulia, salah seorang peserta, mengaku mendapat banyak pencerahan usai mengikuti lokakarya. Meskipun sudah terbiasa membantu memulasara jenazah muslimah, namun dia baru memahami tata cara yang benar sesuai syariat setelah mendapat penjelasan dari instruktur.
‘’Biasanya kalau saudara (perempuan) sendiri yang meninggal memang sudah terbiasa sekadar bantu-bantu. Baru sekarang tahu ternyata ada aturan khusus,’’ tuturnya.
Workshop yang diselenggarakan di aula pertemuan Jalan HOS Cokroaminoto itu diikuti puluhan relawan perempuan. Mereka antusias mengikuti seluruh rangkaian pelatihan. Tak hanya teori, mereka juga memeragakan tata cara pemulasaraan jenazah dengan media boneka.
‘’Memang kalau dilepas (memulasara jenazah) sendiri jelas belum berani. Tapi setidaknya kalau sudah tahu ilmunya nanti kalau bantu-bantu tambah yakin dan berani,’’ imbuh Nurul Habibah, peserta lainnya. (hyo/sat)
Editor : Mizan Ahsani