Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Rawan Gempa dan Tsunami, Sekolah di Pacitan Sisipkan Materi Kebencanaan dan Gelar Simulasi

Mizan Ahsani • Minggu, 19 November 2023 | 21:00 WIB
PENTING: Siswa dan guru SMKN 1 Sudimoro dilibatkan langsung dalam simulasi mitigasi bencana, Selasa (14/11) lalu. (NUR CAHYONO/RADAR PACITAN)
PENTING: Siswa dan guru SMKN 1 Sudimoro dilibatkan langsung dalam simulasi mitigasi bencana, Selasa (14/11) lalu. (NUR CAHYONO/RADAR PACITAN)

PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Mitigasi bencana patut menjadi atensi semua pihak. Tak terkecuali lembaga pendidikan. Seperti yang dilakukan warga SMKN 1 Sudimoro, Pacitan.

Mereka sadar akan potensi ancaman gempa dan tsunami. Simulasi yang melibatkan puluhan siswa dan tenaga pendidik asal Pacitan itupun digelar, Selasa (14/11) lalu.

Digambarkan, rutinitas pagi sekolah di perbatasan Pacitan dan Trenggalek itu berubah menjadi penuh kepanikan saat terjadi gempa besar. Warga sekolah bergegas mengamankan diri.

Mulai berlindung di bawah meja, hingga mengangkat kursi dan menjadikannya pelindung kepala. Sementara yang lain berjalan cepat menjauhi bangunan menuju halaman.

Lonceng sekolah pun terdengar dipukul bertalu-talu sebagai tanda bahaya.

Sementara kepala sekolah (kasek) dan para guru menyertai peserta didik berkumpul di halaman sebagai TES (tempat evakuasi sementara).

‘’Semua tetap tenang, jangan panik. Tim siaga bencana sekolah (TSBS) akan memandu menuju tempat evakuasi akhir (TEA),’’ pinta Andi Prastowo, kasek setempat.

Mereka lantas bergerak menuju TEA yang berjarak sekitar 500 meter ke arah barat dari sekolah. Melalui jalur utama Pacitan-Trenggalek persis di seberang utara komplek PLTU Sudimoro.

Sekitar 10 menit jalan kaki menuju persawahan yang paling aman dan terlindung dari bahaya tsunami. ‘’Perhatikan dan ikuti semua rambu yang ada,’’ sambungnya.

Setiba di TEA, petugas mengidentifikasi ulang seluruh warga sekolah. Untuk memastikan tidak ada yang tertinggal, TSBS kembali menyisir jalur hingga ke komplek sekolah.

Penyisiran berakhir bersamaan informasi tsunami tiba. Personel TSBS bergegas menuju TEA sekaligus melaporkan tidak ditemukan siswa tertinggal maupun korban jiwa.

Peningkatan kapasitas warga sekolah terhadap ancaman bencana memang menjadi materi rutin.

Tak hanya fokus pada siswa namun juga pendidik maupun tenaga kependidikan. Peta risiko menjadi alasan sekolah ini berstatus satuan pendidikan aman bencana (SPAB).

Di setiap masa pengenalan lingkungan sekolah (MPLS) selalu menyisipkan pengetahuan tentang mitigasi bencana.

Kali ini menggandeng badan penangggulangan bencana daerah (BPBD) setempat menggelar simulasi.

‘’Sekolah kami mengembangkan kurikulum berbasis sustainable development goals, yang salah satunya juga concern terhadap bencana,’’ ujar Indra.

Para murid yang terlibat dalam simulasi pun antusias. Latifah, siswi kelas XII jurusan akuntansi, menyebutkan bahwa selama ini ilmu kebencanaan hanya dipelajari secara teori.

Dengan simulasi membuatnya kian memahami tata cara penyelamatan diri yang benar. Termasuk menghitung estimasi waktu pergerakan dari sekolah menuju TEA.

‘’Saya bisa belajar cara menyelamatkan diri dari gempa atau bencana lain yang bisa terjadi di sekolah,’’ tuturnya. (hyo/sat)

Editor : Mizan Ahsani
#pacitan #sekolah #gempa #bencana #simulasi #Tsunami