PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun - Sudah menjadi tradisi turun-temurun. Rondha thethek (ronthek) gugah sahur dilakukan masyarakat Kabupaten Pacitan setiap Ramadan.
Ratusan warga dari beberapa desa turun ke jalan. Seperti di Jalan Panglima Sudirman, Jalan Ahmad Yani dan Jalan Gatot Subroto, kawasan Kecamatan Pacitan (kota).
Dengan berjalan kaki warga yang didominasi anak-anak muda memukul berbagai alat musik seperti kentongan bambu dan bahkan ada juga yang membawa gamelan.
‘’Selalu ikut, karena ini sudah menjadi tradisi pemuda di Pacitan saat Ramadan,’’ kata Wawan Setiawan, salah seorang peserta ronthek asal Desa Arjawinangun.
Ronthek telah menjadi kesenian khas Pacitan yang memadukan kentongan bambu dan alat musik gamelan hingga menghasilkan suara yang merdu.
Sedangkan ronthek gugah sahur adalah tradisi yang dilakukan pada dini hari setiap bulan Ramadan untuk membangunkan umat Islam yang hendak makan sahur.
Biasanya peserta ronthek memulai kegiatan sekitar pukul 02.00 hingga pukul 03.00.
‘’Sejak ada ronthek gugah sahur di Kabupaten Pacitan ini tentu sangat antusias, khususnya membangunkan warga untuk sahur. Pun ronthek ini sudah menjadi tradisi turun-temurun,’’ kata Tri Agung, warga Tanjungsari.
Sementara pelaksanaan ronthek gugah sahur mendapat pengamanan ketat dari aparat gabungan.
Ini dilakukan guna mencegah terjadinya tawuran antarmassa kelompok ronthek.
Meski sempat menyebabkan kemacetan lalu lintas, kegiatan ronthek kemarin (18/3) berlangsung aman dan terkendali. Usai kegiatan, peserta rontek membubarkan diri untuk makan sahur di rumah masing-masing. (hyo/sat)
Editor : Mizan Ahsani