PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun - Ramadan dan tradisi rondha thethek (ronthek) gugah sahur bak air dan ikan di Pacitan. Tak bisa dipisahkan satiu dengan yang lain.
Ajang kelompok pemuda keliling desa memukul kentongan dan alat musik lain jelang waktu sahur telah menjadi khasanah budaya dan kearifan lokal.
Bahkan, Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji tegas menyatakan bahwa ronthek gugah sahur telah menjadi budaya yang melekat pada pemuda Pacitan saat Ramadan.
Tradisi tersebut menjadi agenda yang dinanti-nanti setiap masyarakat Pacitan.
‘’Ketika saya kecil sudah ada, ini bentuk antusiasme masyarakat dalam menyambut Ramadan,’’ kata Mas Aji, sapaan bupati, kemarin (1/4).
Sebagai bentuk apresiasi, Mas Aji menyempatkan diri menyaksikan ribuan massa yang menggelar tradisi ini Minggu (30/3) dini hari.
Meskipun kerap diwarnai gesekan antarpeserta, Mas aji mengajak para pegiat dan seniman tetap kompak menjaga tradisi asli Pacitan ini.
‘’Tradisi ini ada sebelum festival ronthek, kami mengakomodasi dengan menerjunkan petugas keamanan. Sebagai bentuk apresiasi, kami melihat langsung,” ujarnya.
Mas Aji berkeinginan rontek gugah sahur tidak hanya diikuti masyarakat, tapi juga unsur forkopimda ikut menyemarakkan tradisi setiap Ramadan ini.
‘’Kalau memungkinkan dengan jajaran forkopimda bisa bareng-bareng lebih baik, namun perlu didiskusikan dengan kepala desa dan sebagainya,’’ sambugnya.
Rontek gugah saur, lanjut Mas Aji, telah menjadi tradisi dan cikal bakal Festival Ronthek Pacitan.
Baca Juga: Ronthek Gugah Sahur Diikuti Ratusan Massa, Petugas Kawal Ketat
Dikemas sedemikian rupa menjadi seni musik dan pertunjukan, event tersebut bahkan telah masuk 110 Kharisma Event Nusantara (KEN) 2023 Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif (Kemenparekraf).
‘’Yang utama tetap kompak, damai dan kondusif,’’ pesan Mas Aji. (hyo/sat)
Editor : Satmiko Supraptono