PACITAN, Jawa Pos Radar Madiun – Malam belum larut ketika puluhan warga lanjut usia (lansia) bergegas menuju Musala Al Ikhlas, Dusun Krajan, Sukorejo, Sudimoro, Pacitan.
Dengan Alquran dan Iqro di tangan, mereka duduk bersila. Penuh semangat para warga sepuh tersebut mengeja huruf demi huruf hijaiyah.
Begitulah pemandangan rutin setiap Senin dan Kamis malam di Taman Pendidikan Alquran (TPA) Ungkuk, tempat para warga senior ini belajar Alquran.
Di tengah mereka, Muhammad Toha, mengamati satu per satu santri sepuhnya. Pria 31 tahun ini adalah sosok di balik berdirinya TPA Ungkuk sejak 2022 lalu.
Berawal dari kegelisahannya melihat banyak orang tua dari santri anak-anaknya yang tidak bisa mengaji Alquran.
Dia pun tergerak membuka kelas khusus bagi para lansia.
‘’Dulu anak-anak belajar di TPA, tapi mereka tidak bisa latihan di rumah karena orang tuanya juga tidak bisa mengaji. Dari situ saya mulai mengajar beberapa orang tua, ternyata semakin banyak yang ingin ikut,’’ kenang Gus Toha, sapaannya.
Bermula dari enam santri lansia. Saat ini, lebih dari 130 santri sepuh tersebar di 10 musala dan masjid di dua desa, yakni Sumberejo dan Sukorejo.
Di balik semangat para santri, ada 13 pengajar yang dengan penuh kesabaran membimbing mereka. Sebab mengajar lansia tentu berbeda dengan mengajar anak-anak.
Daya tangkap yang lebih lambat, kendala fisik seperti penglihatan yang mulai kabur atau gigi yang tak genap lagi, membuat pelafalan huruf hijaiyah menjadi lebih sulit.
‘’Kami harus ekstrasabar. Ada yang masih merasa minder karena usianya jauh di atas kami. Tapi kami terus memberi semangat bahwa tidak ada kata terlambat untuk belajar,’’ tuturnya.
Kendati menghadapi banyak tantangan, para guru tetap istiqamah.
Bagi mereka, mengajar di TPA Ungkuk bukan sekadar berbagi ilmu, tetapi juga bentuk pengabdian dan ibadah.
Sedangkan bagi santri sepuhnya, belajar di usia lanjut tentu bukanlah hal mudah.
Bambang Daryono, salah seorang santri di TPA Ungkuk butuh usaha lebih untuk memahami bacaan Alquran.
Namun, kakek 66 tahun ini tidak mau menyerah begitu saja.
‘’Alhamdulillah, saya sudah tamat Iqro dan mulai membaca Alquran. Dulu metodenya berbeda, jadi saya ingin memahami lebih dalam,’’ ucapnya berbinar.
Dewi Retno Palupi, seorang santri lainnya, merasa bahagia bisa kembali mengaji setelah sekian lama tertunda oleh kesibukan mengisi hari-harinya. ‘’Dulu pernah belajar, tapi belum lancar. Sekarang baru mulai lagi, meskipun kadang-kadang harus mengulang-ulang,’’ tuturnya.
Bagi mereka, mengaji bukan sekadar belajar membaca Alquran, tetapi juga bagian dari perjalanan spiritual. Ada ketenangan yang mereka dapatkan, ada penebusan waktu yang hilang di masa muda.
Bagi para santri sepuh, TPA Ungkuk bukan hanya tempat belajar membaca Alquran.
Di sini, mereka menemukan kebersamaan, tempat berbagi cerita, dan mendapat ketenangan batin di usia senja.
Di tengah kesibukan mencari nafkah pada siang hari, baik santri maupun pengajar tetap meluangkan waktu di malam hari untuk menunaikan tekad mereka.
Karena bagi mereka, tidak ada kata terlambat untuk belajar, dan tidak ada usia yang terlalu tua untuk mencintai Alquran. (hyo/sat)
Editor : Mizan Ahsani