Jawa Pos Radar Madiun - Gelombang tinggi dan arus laut yang tidak terlihat kini menjadi ancaman nyata bagi wisatawan yang berlibur di pesisir selatan Pacitan.
BPBD Pacitan mengingatkan soal bahaya rip current alias arus balik laut yang bisa menyeret korban dalam hitungan detik.
’’Banyak yang tertipu. Arus balik ini tidak tampak seperti ombak. Justru terlihat tenang, berbuih, dan gelap. Tapi kecepatannya bisa mencapai 5 meter per detik,’’ ujar Kepala Pelaksana BPBD Pacitan, Erwin Andriatmoko, Sabtu (19/4).
Erwin menjelaskan, rip current terbentuk secara alami hampir di semua pantai.
Arus ini terjadi saat gelombang mendorong air ke pantai, lalu air kembali ke laut lewat satu jalur sempit dengan tekanan tinggi.
Itulah yang membuat arusnya sangat kuat dan sulit dilawan. Bahkan, perenang profesional pun bisa kewalahan.
’’Rip current memang tidak langsung menenggelamkan. Tapi ketika seseorang panik dan kehabisan tenaga melawan arus, di situlah risikonya makin tinggi,’’ terang mantan Camat Tulakan tersebut.
Dia menambahkan, sebagian besar korban terseret arus adalah wisatawan dari luar daerah yang belum memahami karakteristik Pantai Selatan Pacitan. Termasuk para pelajar yang sedang berwisata.
’’Petugas sudah memasang larangan berenang dan papan peringatan di sejumlah titik rawan. Tapi kadang pengunjung mengabaikan,’’ ungkap Erwin.
Pihaknya terus mengimbau wisatawan agar tidak berenang di area yang sudah ditandai berbahaya.
Cuaca ekstrem dan gelombang besar masih berpotensi terjadi. Selain itu, pantai-pantai Pacitan belum sepenuhnya memiliki perlengkapan keselamatan seperti perahu penolong.
’’Jangan abaikan rambu larangan. Musibah bisa terjadi kapan saja jika tidak waspada,’’ tandasnya. (hyo/her)
Editor : Hengky Ristanto