Jawa Pos Radar Pacitan – Cuaca dingin ekstrem melanda sejumlah wilayah Pacitan dalam dua hari terakhir.
Di dataran tinggi seperti Kecamatan Bandar, suhu dini hari tercatat 13 hingga 14 derajat Celcius.
Sementara di Nawangan bahkan lebih rendah, menyentuh 12 derajat Celcius.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyebut fenomena ini masih tergolong wajar, biasa terjadi saat musim kemarau tiba.
Salah satu penyebabnya karena posisi Matahari sedang berada pada jarak terjauh dari Bumi.
‘’Terjadinya musim dingin karena jarak Bumi dengan Matahari agak jauh. Meskipun siang terik karena matahari tegak lurus, malam harinya sangat dingin,’’ ujar Kepala Stasiun Geofisika Kelas III Sawahan Nganjuk, Sumber Harto, Senin (21/7).
Langit cerah tanpa awan mempercepat pelepasan radiasi panas dari permukaan Bumi ke atmosfer.
Akibatnya, suhu turun drastis di malam hari. Kondisi ini diperparah hembusan angin Monsun yang biasa terjadi saat kemarau.
‘’Fenomena ini terjadi di sebagian besar wilayah selatan Jawa, termasuk Pacitan,’’ lanjut Sumber Harto, yang juga tengah mendalami ilmu manajemen bencana di UPN Veteran Yogyakarta.
Bulan Juli disebut menjadi penanda awal musim kemarau. Namun, kemarau kali ini tergolong basah. Artinya, hujan masih mungkin turun di beberapa daerah.
‘’Ada beberapa tempat yang masih berpotensi hujan. Ini termasuk kategori kemarau basah,’’ tandasnya. (hyo/her)
Editor : Hengky Ristanto