Jawa Pos Radar Pacitan – Ancaman antraks kembali menghantui wilayah Pacitan.
Hasil uji laboratorium Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates Yogyakarta menunjukkan sampel tanah dari Lingkungan Plelen, Kelurahan Sidoharjo, dan Desa Belah, Kecamatan Donorojo, positif mengandung spora Bacillus anthracis.
Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Pacitan Sugeng Santoso membenarkan temuan tersebut.
’’Kalau sampel hewannya negatif, tapi tanahnya positif antraks,’’ ujarnya, Selasa (28/10).
Temuan itu merupakan tindak lanjut dari kasus sapi mati mendadak di dua lokasi beberapa waktu lalu.
Kini, seluruh area kandang dan lokasi penguburan hewan telah dikarantina.
’’Wilayah itu dinyatakan terbatas aktivitas peternakan. Kami sarankan pindah kandang sementara,’’ jelasnya.
Pemkab juga meminta warga mencor beton lubang bekas penguburan sapi agar spora antraks tidak kembali aktif di permukaan tanah.
’’Spora bisa bertahan puluhan tahun. Kalau tanahnya dibiarkan, rumput yang tumbuh bisa jadi media penularan,’’ tegas Sugeng.
Selain isolasi, dilakukan vaksinasi ulang dan pemberian antibiotik bagi ternak di radius terdampak.
DKPP berkoordinasi dengan BBVet Yogyakarta dan Dinas Peternakan Jatim untuk penambahan vaksin.
Pacitan sendiri masuk zona waspada tinggi antraks, bersama Wonogiri dan Gunungkidul, yang disebut segitiga merah antraks nasional.
Sugeng meminta warga tidak sembarangan mengolah atau memindahkan tanah bekas kuburan hewan tanpa pengawasan petugas.
’’Langkah ini untuk mencegah penyebaran lebih luas dan melindungi kesehatan masyarakat,’’ tandasnya. (hyo/den)
Editor : Hengky Ristanto