Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Thethek Melek Pacitan, Tradisi Tolak Wabah yang Terus Dijaga Warga

Nur Cahyono • Senin, 22 Desember 2025 | 01:24 WIB
Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji memandu prosesi tradisi Thethek Melek di Desa Sukoharjo sebagai simbol ikhtiar menolak pagebluk dan menjaga keseimbangan alam. FOTO: PROKOPIM PEMKAB PACITAN
Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji memandu prosesi tradisi Thethek Melek di Desa Sukoharjo sebagai simbol ikhtiar menolak pagebluk dan menjaga keseimbangan alam. FOTO: PROKOPIM PEMKAB PACITAN

Jawa Pos Radar Pacitan – Hamparan sawah di Desa Sukoharjo, Pacitan, mendadak semarak pada Sabtu (20/12).

Denting kentongan, bunyi cangkul, dan sabit berpadu dalam satu irama.

Anak-anak hingga petani dewasa berjalan beriringan menyusuri pematang sawah.

Mereka mengikuti Thethek Melek, tradisi leluhur yang hingga kini masih dijaga masyarakat.

Prosesi adat tersebut dipandu langsung Bupati Pacitan Indrata Nur Bayuaji.

Di tengah arak-arakan, bupati melantunkan syair berisi pesan moral tentang pentingnya hidup selaras dengan alam, tidak serakah, serta menjaga keseimbangan lingkungan sebagai sumber penghidupan.

“Semoga tradisi ini terus lestari dan keseimbangan alam tetap terjaga,” ujar Indrata Nur Bayuaji di sela prosesi.

Bagi warga Sukoharjo, Thethek Melek bukan sekadar ritual budaya, melainkan bentuk ikhtiar kolektif menolak pagebluk sekaligus doa agar pertanian tetap subur dan terhindar dari bencana.

Tradisi ini diwariskan lintas generasi, berangkat dari pengalaman pahit masa lalu.

“Secara historis, Thethek Melek lahir saat desa pernah dilanda pagebluk berupa gagal panen,” terang Kepala Desa Sukoharjo Sholikin.

Dalam pelaksanaannya, warga mengelilingi area persawahan sambil membunyikan alat-alat pertanian.

Suara riuh tersebut diyakini sebagai simbol pengusiran wabah dan hama tanaman.

Tak hanya itu, warga juga mengarak ornamen berbentuk hama dari pelepah daun kelapa yang dihias warna-warni, melambangkan harapan akan kesuburan dan perlindungan hasil bumi.

Menjelang magrib, rombongan berhenti di pematang sawah.

Doa bersama dipanjatkan sebagai permohonan keselamatan dan dijauhkannya desa dari segala bentuk pagebluk.

Tradisi ini sekaligus menjadi pengingat kuat akan hubungan manusia dengan alam.

“Tradisi ini mengajarkan bahwa manusia tidak bisa lepas dari alam,” tandas Sholikin. (hyo/den)

Editor : Hengky Ristanto
#pacitan #pertanian pacitan #Thethek Melek #tradisi Pacitan #Indrata Nur Bayuaji #kearifan lokal #budaya lokal