Jawa Pos Radar Madiun – Teka-teki jenis gempa bumi kuat yang mengguncang Pacitan, Jawa Timur, pada Jumat (6/2) dini hari akhirnya terjawab.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengonfirmasi bahwa lindu berkekuatan Magnitudo 6,4 tersebut merupakan jenis Gempa Megathrust.
Direktur Gempabumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan bahwa kesimpulan ini didapat setelah menganalisis mekanisme sumber gempa.
"Gempa Pacitan ini jenis gempa megathrust, yang tergambar dari mekanismenya yang berupa pergerakan naik (thrusting) dengan kedalaman dangkal," ungkap Daryono, Jumat (6/2).
Baca Juga: Wagub Jatim Emil Dardak Tinjau Dampak Gempa Pacitan, BPBD Catat 23 Bangunan Rusak
Mengapa Tidak Tsunami?
Meski berjenis megathrust dan berpusat di laut, Daryono meminta masyarakat untuk tetap tenang namun waspada.
Ia menyebut ada satu hal yang patut disyukuri dari peristiwa ini, yakni kekuatannya yang belum mencapai ambang batas pemicu tsunami dahsyat.
"Patut disyukuri bahwa gempa Pacitan ini tidak mencapai Magnitudo 7,0 karena dapat berpotensi tsunami," jelasnya.
Sebagai informasi, gempa ini dirasakan sangat luas.
Wilayah Bantul, Sleman, dan Pacitan merasakan guncangan skala intensitas IV MMI (banyak orang di dalam rumah merasakannya).
Sementara wilayah lain seperti Madiun, Ponorogo, hingga Solo dan sekitarnya merasakan skala III MMI.
Penjelasan Soal Megathrust Menunggu Waktu
Peristiwa di Pacitan kembali memantik diskusi publik mengenai potensi gempa Megathrust di zona lain, khususnya Megathrust Selat Sunda dan Mentawai-Siberut.
Daryono menegaskan kembali pernyataannya mengenai dua zona tersebut yang disebut "tinggal menunggu waktu".
Ia meluruskan bahwa frasa tersebut bukanlah prediksi waktu kejadian dalam waktu dekat, melainkan peringatan akan adanya seismic gap (zona kekosongan gempa).
"Karena kejadian gempa memang belum dapat diprediksi, sehingga kami pun tidak tahu kapan akan terjadi," tegasnya.
Istilah "menunggu waktu" digunakan karena kedua segmen tersebut sudah ratusan tahun tidak melepaskan energi besarnya (terakhir lebih dari dua abad silam).
Megathrust Selat Sunda: Terakhir pecah tahun 1780 (M 8,5).
Megathrust Mentawai-Siberut: Terakhir pecah tahun 1833 (M 8,9).
"Munculnya kembali pembahasan ini bukanlah bentuk peringatan dini (warning) yang seolah-olah dalam waktu dekat akan segera terjadi gempa besar. Tidak demikian," pungkas Daryono.
Masyarakat diimbau untuk tidak panik berlebihan, namun menjadikan informasi ini sebagai dasar untuk meningkatkan kesiapsiagaan mitigasi bencana, mengingat Pulau Jawa adalah wilayah dengan populasi terpadat yang rawan aktivitas seismik. (naz)
Editor : Mizan Ahsani