Jawa Pos Radar Pacitan – Status Pacitan sebagai lumbung ikan di Jawa Timur mulai tergerus.
Produksi perikanan tangkap sepanjang 2025 anjlok signifikan dibanding tahun sebelumnya.
Data Dinas Perikanan (Diskan) Pacitan mencatat, total produksi 2025 hanya mencapai 8.496 ton.
Terdiri dari tangkapan laut 7.674 ton dan perairan umum daratan (PUD) 821 ton.
Angka itu turun jauh dari 2024 yang mencapai 11.091 ton. Rinciannya, 10.219 ton berasal dari laut dan 871 ton dari PUD.
Kepala Diskan Pacitan Nanang Hardwijono menyebut, faktor cuaca menjadi penyebab utama turunnya produksi.
“Tahun 2025 kemaraunya basah, intensitas hujan tinggi. Di darat mungkin naik, tapi di laut justru turun,” ujarnya, kemarin (27/4).
Curah hujan tinggi memicu gelombang besar dan kondisi perairan tidak stabil. Dampaknya, aktivitas melaut nelayan tidak optimal sepanjang tahun.
Selain cuaca, faktor lain ikut berpengaruh. Di antaranya aktivitas survei seismik laut oleh Pertamina Hulu Energi di perairan selatan Pacitan.
Kegiatan tersebut menyebabkan puluhan rumpon nelayan terpotong.
“Ada sekitar 52 rumpon yang terpotong. Itu berpengaruh, meski bukan faktor utama,” jelas Nanang.
Penurunan juga dipicu peralihan sebagian nelayan ke penangkapan benur (benih bening lobster). Pergeseran aktivitas ini turut menekan produksi ikan tangkap.
Meski demikian, kondisi cuaca tetap menjadi faktor dominan yang memengaruhi hasil tangkapan.
“Istilah nelayan, tidak ada ikan, rumput laut saja tidak tumbuh. Artinya kondisi perairan memang tidak mendukung,” tandasnya. (hyo/her)
Editor : Hengky Ristanto