Jawa Pos Radar Pacitan – Nasib angkutan pedesaan (angkudes) di Kabupaten Pacitan semakin memprihatinkan.
Jumlah armada yang beroperasi terus menyusut dari tahun ke tahun hingga kini hanya tersisa sekitar 50 kendaraan.
Kondisi tersebut berdampak langsung terhadap masyarakat yang masih bergantung pada transportasi umum, terutama warga di wilayah pedesaan yang belum memiliki akses kendaraan pribadi.
Kepala Dinas Perhubungan (Dishub) Pacitan Bambang Mahaendrawan mengatakan, jumlah angkudes saat ini jauh berkurang dibanding sekitar 15 tahun lalu.
Pada masa itu, ratusan armada masih beroperasi dan melayani berbagai rute di seluruh wilayah Kabupaten Pacitan.
"Jumlah angkudes yang masih beroperasi sekarang sekitar 50-an unit," katanya, Rabu (4/6).
Berdasarkan Peraturan Bupati Pacitan Nomor 34 Tahun 2002 tentang Penetapan Jaringan Trayek Angkutan Perdesaan, terdapat 37 trayek resmi yang ditetapkan pemerintah daerah.
Namun, kondisi saat ini menunjukkan sebagian besar trayek sudah tidak lagi beroperasi.
Dari puluhan jalur tersebut, hanya empat trayek yang masih aktif melayani masyarakat.
Empat trayek yang masih bertahan meliputi jalur Pacitan–Semanten–Arjosari–Kebondalem, Pacitan–Kebonagung–Sidomulyo–Kelipelus–Karangnongko, Pacitan–Sedeng–Pringkuku–Punung–Donorojo, serta Pacitan–Tulakan–Lorok.
Menurut Bambang, penurunan jumlah armada tidak terlepas dari perubahan pola mobilitas masyarakat dalam beberapa tahun terakhir.
Kepemilikan kendaraan pribadi, khususnya sepeda motor, meningkat signifikan sehingga ketergantungan terhadap transportasi umum terus berkurang.
Selain itu, kelompok pengguna utama angkudes seperti pelajar dan pedagang juga mengalami penurunan.
Jika sebelumnya banyak pelajar memanfaatkan angkudes untuk berangkat ke sekolah, kini sebagian besar memilih menggunakan sepeda motor pribadi atau diantar jemput oleh orang tua.
"Penumpang lebih memilih menggunakan kendaraan pribadi, terutama sepeda motor," jelasnya. (hyo/den)
Editor : Hengky Ristanto