Jawa Pos Radar Pacitan – Pelaksanaan Sensus Ekonomi (SE) 2026 di Kabupaten Pacitan masih menghadapi sejumlah tantangan.
Hingga memasuki pekan kedua pendataan, capaian sensus baru mencapai sekitar 26 persen meski 1.080 petugas telah diterjunkan ke seluruh wilayah.
Kepala BPS Kabupaten Pacitan Kiki Ferdiana mengatakan, pendataan tidak hanya menyasar perusahaan besar dan pelaku UMKM, tetapi juga berbagai usaha rumah tangga yang tersebar hingga pelosok desa.
Menurutnya, kondisi geografis Pacitan menjadi salah satu hambatan terbesar.
Banyak lokasi usaha berada di kawasan perbukitan dengan akses transportasi yang terbatas sehingga membutuhkan waktu lebih lama untuk dijangkau petugas.
"Petugas harus menjangkau seluruh unit usaha. Kami berusaha agar tidak ada usaha yang terlewat," ujarnya, Jumat (3/7).
Selain faktor geografis, petugas sensus juga menghadapi kendala saat berinteraksi dengan responden.
Sebagian pelaku usaha masih enggan memberikan informasi, belum memahami tujuan sensus, bahkan menolak diwawancarai.
Karena itu, BPS menginstruksikan petugas mengedepankan pendekatan persuasif selama proses pendataan berlangsung.
Kiki memastikan seluruh informasi yang diberikan masyarakat dijamin kerahasiaannya dan hanya dimanfaatkan untuk kepentingan statistik sesuai ketentuan yang berlaku.
"Data yang diberikan masyarakat dijamin kerahasiaannya dan hanya digunakan untuk kepentingan statistik," katanya.
Dia menambahkan, Sensus Ekonomi 2026 tidak hanya mendata keberadaan unit usaha, tetapi juga memotret aktivitas ekonomi masyarakat secara lebih menyeluruh.
Data tersebut nantinya menjadi dasar pemerintah dalam menyusun kebijakan ekonomi, memperkuat pembinaan pelaku usaha, serta mendukung upaya menarik investasi ke daerah.
"Keberhasilan sensus ekonomi membutuhkan dukungan seluruh masyarakat," pungkasnya. (hyo/her)
Editor : Hengky Ristanto