Jawa Pos Radar Madiun – Kekayaan alam bawah tanah Pacitan kembali menjadi sasaran eksplorasi.
Sebanyak 100 penjelajah gua atau caver dari berbagai daerah di Indonesia turun ke Luweng Ombo, Desa Kalak, Kecamatan Donorojo, dalam Ekspedisi Gahvara Yava 2026.
Kegiatan yang melibatkan lebih dari 20 komunitas speleologi tersebut resmi dimulai Senin (10/8).
Ekspedisi dijadwalkan berlangsung hingga 17 Agustus dengan agenda utama penelusuran, pemetaan, serta penelitian ekosistem gua.
Wakil Bupati Pacitan Gagarin Sumrambah mengatakan, kawasan karst Pacitan menyimpan potensi besar yang belum sepenuhnya terungkap.
Eksplorasi gua menjadi bagian penting untuk mengenali kekayaan alam sekaligus menjaga kelestarian ekosistem bawah tanah.
’’Kita menyadari kekayaan alam tersebut belum sepenuhnya terungkap,’’ ujarnya.
Ketua Ekspedisi Gahvara Yava 2026 M. Guntur Pambudi menjelaskan, salah satu fokus utama ekspedisi adalah memperbarui pemetaan Luweng Ombo.
Tim akan menyusuri lorong-lorong yang belum masuk dalam peta eksplorasi sebelumnya.
Peta Luweng Ombo yang selama ini digunakan dibuat pada era 1990-an.
Dalam catatan tersebut masih terdapat sejumlah bagian bertanda CUE (Continue Unexplored) atau area yang belum berhasil ditelusuri.
’’Dari peta tujuh kilometer ini masih ada lorong-lorong gua yang belum dieksplorasi dan berpotensi menjadi lorong utama,’’ jelas Guntur.
Selain pemetaan jalur gua, tim ekspedisi juga melakukan inventarisasi biota bersama Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
Penelitian biospeleologi tersebut bertujuan mengidentifikasi kehidupan unik di dalam gua, termasuk kemungkinan adanya spesies endemik.
Luweng Ombo menjadi salah satu gua vertikal terdalam di Pulau Jawa. Gua yang berada di kawasan karst Pacitan itu memiliki diameter mulut sekitar 50 meter dengan kedalaman mencapai 246 meter.
Sementara lorong yang telah berhasil dipetakan sebelumnya mencapai sekitar 7,5 kilometer.
Namun, para peneliti meyakini sistem gua tersebut masih menyimpan banyak bagian yang belum terungkap.
’’Lewat ekspedisi ini, kami berharap dapat menemukan informasi baru sekaligus memperkuat posisi Pacitan sebagai salah satu pusat speleologi Indonesia,’’ ungkap Guntur. (hyo/her)
Editor : Hengky Ristanto