Ritual Tetek Melek di Pacitan, 500 Warga Pukul Bambu Serentak untuk Usir Pagebluk

Nur Cahyono • Dipublikasikan Senin, 19 Oktober 2026 | 11:30 WIB
TRADISI LELUHUR: Lebih dari 500 warga berpakaian putih membunyikan bambu secara serentak dalam ritual Tetek Melek di persawahan Dusun Nitikan, Desa Sukoharjo, Pacitan, Sabtu (17/10).
TRADISI LELUHUR: Lebih dari 500 warga berpakaian putih membunyikan bambu secara serentak dalam ritual Tetek Melek di persawahan Dusun Nitikan, Desa Sukoharjo, Pacitan, Sabtu (17/10).

Jawa Pos Radar Pacitan – Suara pukulan bambu memecah suasana persawahan Dusun Nitikan, Desa Sukoharjo, Pacitan, Sabtu (17/10) petang.

Lebih dari 500 warga berpakaian putih membunyikan bambu secara serentak. Mereka menghalau sosok pagebluk yang digambarkan muncul dari arah hutan.

Adegan kolosal itu menjadi bagian dari ritual Tetek Melek, tradisi tolak bala yang terus dijaga masyarakat setempat.

Ritual tersebut berakar dari kehidupan masyarakat agraris yang dahulu menghadapi ancaman gagal panen dan paceklik.

Pagebluk dalam tradisi itu dimaknai sebagai sumber malapetaka yang mengganggu kehidupan warga.

Namun, maknanya kini berkembang. Pagebluk tidak lagi semata-mata dikaitkan dengan wabah penyakit atau gagal panen, tetapi juga menjadi simbol kesulitan ekonomi dan berbagai persoalan kehidupan.

Pegiat budaya setempat Amin Sastropawiro menjelaskan, Tetek Melek lahir dari pengalaman masyarakat menghadapi masa sulit ketika hasil pertanian tidak mencukupi kebutuhan hidup.

’’Dulu pagebluk itu berkaitan dengan gagal panen yang menyebabkan paceklik. Sekarang lebih dimaknai pada kondisi ekonomi atau negara yang sedang sulit,’’ jelasnya.

Berdasarkan cerita turun-temurun, tradisi tersebut bermula dari tindakan seorang tokoh masyarakat yang diam-diam membawa sesaji untuk mengusir pagebluk.

Warga yang mengetahui tindakannya kemudian ikut menyusul sambil membawa berbagai benda yang dapat menghasilkan suara.

Baca Juga: Pelajar 15 Tahun Terjun ke Sungai Grindulu Pacitan, Kepala Robek Usai Motor Masuk Jurang

Dari peristiwa itulah berkembang tradisi pengusiran pagebluk secara bersama-sama.

Peralatan yang digunakan tidak rumit. Selain bambu, warga memanfaatkan cangkul, sabit, hingga panci untuk menciptakan bunyi-bunyian.

Amin menjelaskan, kata tetek dimaknai sebagai pengusiran, sedangkan melek berarti nyata.

Kedua istilah tersebut melambangkan tindakan bersama untuk menyingkirkan sumber kesulitan.

Prosesi Tetek Melek diawali dengan memetri atau merawat kawasan persawahan.

Setelah itu, warga menggelar doa bersama sebelum membunyikan berbagai peralatan secara serentak sebagai simbol pengusiran pagebluk.

’’Persawahan menjadi lokasi utama karena tempat tersebut berkaitan erat dengan sumber penghidupan masyarakat,’’ terang pengurus Sanggar Song Meri tersebut.

Menurut Amin, keterlibatan warga lintas generasi menjadi bagian penting dalam menjaga kelangsungan tradisi..

Terlebih, Tetek Melek kini tidak hanya dipandang sebagai ritual tolak bala, tetapi juga sarana memperkuat kebersamaan dalam menghadapi persoalan kehidupan.

’’Ritual Tetek Melek kali ini diikuti lebih dari 500 peserta,’’ pungkasnya. (hyo/her)

Editor : Hengky Ristanto
Ritual Tetek Melek pacitan tolak bala pagebluk budaya pacitan