Oleh: Medi Yuryono, S.Pd*
TARIAN klasik Jawa sebagai bagian penting dari warisan budaya kini berada di titik yang memprihatinkan.
Di tengah derasnya arus modernisasi dan dominasi konten digital, seni pertunjukan tradisional perlahan kehilangan tempatnya.
Ini bukan sekadar menurunnya minat publik, melainkan sebuah ancaman nyata terhadap keberlangsungan budaya yang seharusnya dijaga bersama.
Keheningan yang Menyelimuti Sanggar
Kekhawatiran itu tumbuh dari kondisi sanggar tari yang makin sunyi.
Banyak tempat latihan yang dulu menjadi wadah pembinaan generasi muda kini berhenti beroperasi karena tidak lagi diminati.
Ruang yang semestinya menjadi arena belajar dan berkarya justru menyisakan kenangan masa jaya yang semakin jauh.
Coba diingat kembali kapan terakhir menyaksikan Gambyong Parianom yang lembut, Karonsih yang penuh kehalusan rasa, atau gerak heroik Bambang Cakil tampil dalam acara umum.
Panggung hiburan lebih banyak diisi musik populer dan tontonan cepat saji, sementara tari klasik perlahan tersingkir dari ruang-ruang publik dan perayaan keluarga.
Generasi Baru dan Anggapan yang Mengakar
Turunnya minat terhadap seni tari tradisional tidak terjadi begitu saja. Faktor penyebabnya berlapis, namun banyak yang berawal dari cara pandang generasi muda dan orang tua.
Anak-anak dan remaja tumbuh di lingkungan yang serba daring. Game online, kegiatan jalanan, dan berbagai hiburan di media sosial terasa lebih mudah diakses dan cepat memberi kepuasan.
Belajar tari klasik yang memerlukan disiplin dan ketelatenan pun kalah bersaing.
Sebagian orang tua menganggap belajar tari tradisional tidak memberi manfaat langsung.
Label kuno dan tidak relevan masih sering dilekatkan, padahal tarian klasik Jawa menyimpan nilai etika, filosofi hidup, serta pelajaran tentang sikap yang lembut dan santun.
Nilai-nilai itulah yang sebenarnya penting bagi pembentukan karakter.
Mencari Penjaga Warisan
Warisan budaya ini tidak boleh dibiarkan memudar. Diperlukan upaya bersama agar tari tradisional tetap hidup dan dikenal generasi baru.
Pendidikan tari tradisional seharusnya tidak hanya hadir sebagai kegiatan pilihan, tetapi menjadi bagian pembelajaran yang menyenangkan di sekolah.
Pemerintah juga perlu memberi dukungan nyata melalui bantuan untuk sanggar, pelatihan pengelolaan, dan ruang tampil yang lebih luas.
Penyajian seni tradisional pada acara resmi juga dapat membantu menjaga keberadaannya.
Peran Seniman dan Praktisi Budaya
Para pelaku seni perlu terus berkreasi agar tari klasik tetap relevan.
Kolaborasi dengan musik modern, teknologi digital, hingga seni visual dapat membuka jalan baru tanpa meninggalkan pakem.
Media sosial juga dapat dimanfaatkan untuk memperkenalkan tarian dan nilai filosofisnya agar lebih dekat dengan generasi muda.
Peran Masyarakat dan Orang Tua
Stigma kuno perlu dihapus. Masyarakat harus melihat seni tradisional sebagai bagian jati diri.
Orang tua pun diharapkan memberi dorongan kepada anak-anak agar mengenal tarian tradisional sebagai ruang pembelajaran karakter, bukan sekadar keterampilan hiburan.
Warisan budaya adalah cermin bangsa.
Bila Gambyong, Karonsih, dan Bambang Cakil hanya tersisa dalam catatan sejarah tanpa ada generasi yang meneruskannya, maka kita telah kehilangan bagian penting dari identitas Jawa.
Sebelum sanggar-sanggar itu benar-benar sunyi, inilah saatnya bergerak memulihkan kembali kehidupan seni tari tradisional.
(*/naz)
*Penulis merupakan peserta Workshop Speak Up and Write Now Jawa Pos Radar Madiun
Editor : Mizan Ahsani