Wayang Melawan Algoritma: Apakah Kita Merdeka dalam Memilih Budaya Sendiri?

Ki Damar • Dipublikasikan Sabtu, 22 Agustus 2026 | 18:30 WIB
Ilustrasi pementasan wayang. (RADAR MADIUN)
Ilustrasi pementasan wayang. (RADAR MADIUN)

Jawa Pos Radar Madiun – Penjajahan budaya pada zaman digital tidak datang membawa senjata. Ia bisa hadir melalui layar yang setiap hari berada dalam genggaman.

Anak muda hari ini bukan kekurangan hiburan. Sebaliknya, mereka hidup dalam kelimpahan konten.

Video pendek, musik, film, gim, hingga berbagai tren dari seluruh dunia dapat masuk hanya dalam hitungan detik.

Pertanyaannya: masihkah kita benar-benar merdeka menentukan budaya yang ingin dikonsumsi, atau pilihan tersebut perlahan dibentuk oleh algoritma?

Wayang Tak Harus Mati di Era TikTok

Wayang sebenarnya mempunyai kemampuan beradaptasi yang luar biasa.

Dahulu, pertunjukan wayang bergantung pada panggung dan kerumunan penonton. Kini, dalang dan pertunjukan wayang dapat hadir melalui YouTube, TikTok, Facebook, maupun platform digital lainnya.

Artinya, teknologi tidak harus menjadi musuh budaya tradisional.

Persoalannya justru terletak pada apa yang dibawa ketika budaya tersebut berpindah medium.

Wayang bukan hanya pertunjukan tokoh Pandawa melawan Kurawa. Di dalamnya terdapat gagasan tentang kekuasaan, keserakahan, keadilan, pengorbanan, hingga sifat manusia.

Jika wayang hanya bertahan sebagai tontonan tetapi kehilangan filosofi, bentuknya mungkin masih hidup, tetapi jiwanya perlahan menghilang.

Baca Juga: Pandawa, Astina, dan Pertanyaan Besar: Sebenarnya Kita Sudah Merdeka dari Apa?

Baratayuda Belum Selesai

Kisah Pandawa dan Kurawa bahkan terasa relevan ketika dibawa ke kehidupan modern.

Sifat Kurawa muncul ketika kekuasaan dipakai untuk kepentingan pribadi dan keserakahan mengalahkan kepentingan masyarakat.

Sebaliknya, nilai Pandawa hadir ketika seseorang memilih jujur meski harus kehilangan kesempatan, pejabat mendahulukan masyarakat, atau seseorang membantu sesamanya tanpa berharap imbalan.

Dalam konteks tersebut, Baratayuda seperti tidak pernah benar-benar berakhir.

Medannya saja yang berubah.

Dahulu di Kurukshetra. Kini pertarungannya dapat berada di ruang sidang, kantor pemerintahan, sekolah, pasar, media sosial, bahkan di dalam diri manusia.

Wayang Adalah Cermin

Mahabharata maupun Ramayana tentu bukan ramalan mengenai kehidupan Indonesia modern.

Kekuatan cerita tersebut justru terdapat pada kemampuannya membaca sifat manusia.

Duryudana dan Sengkuni adalah tokoh dalam cerita.

Pandawa juga berasal dari kisah epik. Namun, keserakahan, ambisi, kecemburuan, pengorbanan, keadilan, dan perjuangan tetap hadir dalam kehidupan manusia sampai sekarang.

Itulah sebabnya cerita berusia ratusan tahun masih terasa dekat.

Bukan karena wayang mengetahui masa depan, tetapi karena sifat dasar manusia ternyata tidak banyak berubah.

Di sinilah kemerdekaan budaya mendapatkan makna baru.

Tugas generasi hari ini bukan menolak perkembangan zaman, melainkan memastikan identitas dan nilai budaya Indonesia tidak hilang ketika memasuki dunia digital.

Sebab merdeka bukan hanya mempunyai negara sendiri.

Merdeka juga berarti mampu mengenali, memilih, dan mempertahankan siapa diri kita di tengah dunia yang terus berusaha merebut perhatian. (*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
media sosial budaya Algoritma wayang tiktok