Jawa Pos Radar Madiun – Wayang tidak hanya menghadirkan pertarungan antara tokoh protagonis dan antagonis. Di balik konflik tersebut tersimpan gambaran mengenai kekuasaan, ketidakadilan, perlawanan, hingga keberanian manusia menghadapi rintangan.
Pesan itu salah satunya dapat dibaca dalam Kangsa Asu Jago. Lakon tersebut menggambarkan bagaimana kekuasaan yang dijalankan secara sewenang-wenang pada akhirnya memunculkan pertentangan.
Sosok Kangsa tidak hanya dapat dipandang sebagai tokoh antagonis. Ia sekaligus menjadi simbol keserakahan, ambisi, dan kekuasaan yang kehilangan batas moral.
Sebaliknya, perlawanan terhadap Kangsa membawa pesan bahwa ketidakadilan tidak seharusnya diterima sebagai sesuatu yang biasa.
Pesan tersebut memiliki relevansi dengan perjalanan bangsa Indonesia. Penjajahan merupakan bentuk perampasan kebebasan sehingga perjuangan kemerdekaan pada hakikatnya menjadi usaha mengembalikan hak dan martabat sebuah bangsa.
Dari Kangsa Asu Jago muncul pesan sederhana: kekuasaan tanpa keadilan akan melahirkan perlawanan, sedangkan kesewenang-wenangan tidak selamanya mampu membungkam kebenaran.
Baca Juga: Golkar Menangi Laga Eksibisi vs PKB 3-2, Panaskan Pembukaan Bahlil Mini Soccer Zona Madiun Raya
Ampak-Ampak Manahilan dan Rintangan Perjuangan
Warna berbeda hadir dalam Ampak-Ampak Manahilan. Lakon ini dapat dibaca melalui perjuangan menghadapi berbagai rintangan yang menghalangi perjalanan menuju sebuah tujuan.
Sebab, perjuangan hampir tidak pernah berjalan lurus.
Hambatan, ketakutan, godaan, maupun kekuatan yang mencoba menghalangi selalu dapat muncul di tengah perjalanan.
Menghadapinya membutuhkan keberanian, keteguhan hati, kecerdikan, dan keyakinan terhadap tujuan. Nilai tersebut juga dapat dikaitkan dengan panjangnya perjalanan bangsa Indonesia mencapai kemerdekaan.
Para pendahulu bangsa menghadapi berbagai tekanan dan kesulitan. Namun, cita-cita menjadi bangsa merdeka membuat perjuangan terus dilanjutkan.
Kangsa Asu Jago dan Ampak-Ampak Manahilan akhirnya menyampaikan dua sisi perjuangan. Manusia perlu berani menghadapi ketidakadilan sekaligus tidak mudah menyerah ketika berbagai rintangan menghadang jalan menuju tujuan. (*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani