Jawa Pos Radar Madiun – Masih ada anggapan sempit di tengah masyarakat bahwa wayang hanyalah tontonan yang cocok untuk kalangan orang tua.
Pandangan semacam ini sebenarnya menjadi tantangan sekaligus pekerjaan rumah tersendiri bagi para seniman dan pelaku budaya di Tanah Air.
Wayang memang lahir dari tradisi masa lalu yang panjang. Namun, jalinan cerita dan nilai moral yang dibawanya tidak pernah benar-benar kehilangan relevansinya dengan kehidupan modern.
Berbagai persoalan epik tentang keserakahan kekuasaan, persahabatan, cinta, pengkhianatan, tanggung jawab, perjuangan hidup, hingga pencarian kebenaran nyatanya masih sangat dekat dan kerap ditemukan dalam dinamika kehidupan anak muda zaman sekarang.
Karena itu, hal yang mungkin perlu diubah secara revolusioner bukanlah pakem wayangnya itu sendiri, melainkan cara mengemas dan memperkenalkan wayang kepada generasi muda.
Wayang kini bisa hadir menyapa anak muda melalui kurikulum sekolah, interaksi di media sosial, pertunjukan dengan durasi singkat, hingga dikemas dalam medium musik, animasi, film, dan komik.
Kolaborasi dengan kesenian modern juga menjadi kunci. Inovasi seperti hadirnya Wayang Ebes, misalnya, membuktikan bahwa wayang dapat dipertemukan secara apik dengan kreativitas generasi muda, kepedulian isu lingkungan, hingga iringan musik band.
Lewat pendekatan populer semacam ini, anak muda tidak sekadar duduk pasif sebagai penonton, tetapi juga bisa dilibatkan aktif sebagai pelaku budaya.
Baca Juga: Sinergi Bangun SDM Bumi Reog, Plt Bupati Ponorogo Dukung Penuh Festival Dai Cilik Tingkat SMP/MTs
Ketika Kelir Wayang Justru Dilecehkan
Di tengah upaya keras melestarikan wayang, keprihatinan justru muncul ketika terjadi tindakan tak pantas yang merendahkan sakralnya pertunjukan wayang.
Hal ini tecermin dari insiden yang terjadi pada 23 Desember 2025 lalu.
Sebuah pagelaran wayang kulit dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Blora di Alun-Alun Blora terpaksa terhenti usai seorang pria nekat menyiram kain kelir (geber) dari arah belakang panggung.
Dalang kondang asal Rembang, Ki Sigit Ariyanto, yang tengah asyik mendalang malam itu pun turut terdampak. Diketahui, pelaku yang berada di bawah pengaruh minuman keras akhirnya diamankan oleh pihak kepolisian, meminta maaf, dan dikenai sanksi wajib lapor.
Meskipun pelaku dalam insiden tersebut diberitakan telah berusia 41 tahun—sehingga tidak tepat jika digeneralisasi sebagai cerminan perilaku generasi muda—peristiwa ini tetap menampar wajah kebudayaan kita.
Ada pelajaran penting yang bisa dipetik: sebuah mahakarya pertunjukan budaya harus senantiasa dihormati, bagaimanapun bentuk kemasannya.
Kelir tempat bayangan wayang menari bukanlah sekadar lembaran kain putih biasa. Di hamparan layar itulah sang dalang mentransfer cerita, nilai luhur, melontarkan kritik sosial, hingga menjabarkan filosofi kehidupan manusia kepada masyarakat luas. (*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani