Jawa Pos Radar Madiun - Dahulu di Astinapura ada seorang tokoh yang tidak pernah memegang senjata besar dan tidak pernah maju ke medan perang.
Meski begitu, justru dialah yang paling berbahaya. Namanya Sengkuni.
Tubuhnya pincang, matanya licik, dan mulutnya manis. Namun pikirannya adalah racun yang paling mematikan dalam seluruh kisah epik Mahabharata.
Sengkuni tidak membunuh dengan pedang. Ia membunuh dengan kata kata.
Ia tidak menghancurkan keluarga Pandawa dengan adu kekuatan militer, melainkan dengan fitnah, adu domba, dan bisikan bisikan yang membuat saudara saling curiga.
Dari bisikan beracun itulah lahir perang besar Bharatayudha yang menewaskan ribuan manusia tidak bersalah.
Kini di Indonesia tahun 2026, Sengkuni tidak lagi tinggal di Astinapura. Tokoh licik ini telah bereinkarnasi dalam wujud yang sama sekali baru.
Ia tidak lagi memakai blangkon dan kain jarik. Sengkuni masa kini memakai akun anonim, kanal YouTube, dan potongan video berdurasi tiga puluh detik.
Baca Juga: Sopir Diduga Mengantuk, Minibus Terjun ke Parit di Ponorogo
Wajah aslinya tidak pernah terlihat jelas, tetapi bisikannya menyebar luas ada di mana mana.
Dahulu Sengkuni membisikkan ke telinga Duryudana bahwa Pandawa akan merebut takhta.
Hari ini, Sengkuni Modern membisikkan ke telinga kita lewat layar ponsel. Narasinya berganti menjadi tuduhan musuh agama, antek asing, hingga perusak tatanan negara.
Padahal apa yang dibisikkan itu seringkali bukan fakta lapangan, melainkan hoaks yang sengaja dirancang secara sistematis.
Inilah cara kerja Sengkuni Modern yang paling licik. Ia tidak perlu bersusah payah membuat kebohongan yang besar.
Cukup memotong video satu menit menjadi sepuluh detik, hilangkan konteks aslinya, tambahkan judul yang provokatif, lalu sebarkan ke jagad maya.
Seketika jutaan orang terpancing emosi dan marah besar. Padahal mereka sedang memarahi sesuatu yang tidak pernah benar benar terjadi. (*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani