Jawa Pos Radar Madiun - Sebuah rumah dua lantai di Jalan Gresik PPI Pasar, Kelurahan Kemayoran, Kecamatan Krembangan, Surabaya, dilalap api pada Rabu (20/8/2025) dini hari.
Peristiwa kebakaran ini terjadi di lantai dua rumah dan diduga dipicu oleh obat nyamuk bakar yang menyambar seprei kasur.
Kronologi Kebakaran
Kepala Bidang Pemadaman Dinas Pemadam Kebakaran dan Penyelamatan (DPKP) Kota Surabaya, Wasis Sutikno, menjelaskan bahwa pihaknya menerima laporan kebakaran pada pukul 00.43 WIB dari seorang warga bernama Medina.
“Setelah laporan masuk, kami segera mengerahkan tiga unit tempur dan lima unit tim rescue. Unit pertama tiba sekitar pukul 00.48 WIB dan langsung melakukan pemadaman. Api berhasil dikendalikan pukul 01.00 WIB, sedangkan proses pembasahan selesai pukul 01.31 WIB,” ungkap Wasis.
Menurutnya, area yang terbakar sekitar 3x5 meter persegi di lantai dua rumah tersebut. Beruntung, lantai satu rumah tidak terdampak berkat respon cepat petugas dibantu warga sekitar.
Korban Luka Bakar
Insiden ini menyebabkan SCA (13 tahun), anak pemilik rumah, mengalami luka bakar sekitar 10 persen pada bahu kanan dan jari. Hal ini terjadi ketika korban berusaha memadamkan api secara manual.
“Korban mencoba menyiram kasur yang terbakar, tetapi karena panik justru memegang bagian kasur yang menyala. Akibatnya ia mengalami luka bakar, namun langsung mendapat perawatan medis,” tambah Wasis.
Kendala Akses Pemadaman
Petugas pemadam sempat mengalami hambatan akibat akses jalan yang sempit dan padat kendaraan warga.
Hal tersebut membuat unit besar tidak bisa masuk hingga titik kebakaran, sehingga hanya unit kecil yang dapat menjangkau lokasi sejauh sekitar 100 meter dari jalan raya.
Dalam penanganan kebakaran ini, DPKP Surabaya juga mendapatkan bantuan dari BPBD Kota Surabaya, PLN, Posko Terpadu Utara, serta PMI.
Imbauan untuk Warga
Wasis menegaskan pentingnya kewaspadaan masyarakat dalam menggunakan bahan yang berpotensi memicu kebakaran, terutama di malam hari.
“Kami mengingatkan warga agar tidak menyalakan obat nyamuk bakar di dekat bahan mudah terbakar. Kesadaran dan pengawasan menjadi kunci agar insiden serupa tidak terulang kembali,” pungkasnya.
(*/naz)
Penulis: Indah Fitri Nugraheni/Politeknik Negeri Madiun