Jawa Pos Radar Madiun – Fenomena tren busana muslim bernama gamis “Bini Orang” menjadi salah satu cerita menarik jelang Ramadan dan Idul Fitri 2026. Busana dengan desain yang simpel dan elegan ini tidak hanya viral di media sosial seperti TikTok, tetapi juga berimbas positif pada aktivitas ekonomi pedagang di Pasar Tanah Abang, pusat grosir tekstil terbesar di Asia Tenggara.
Istilah “Bini Orang” sendiri muncul dari percakapan netizen di platform TikTok dan merujuk pada gaya sederhana namun anggun yang kerap diasosiasikan dengan gaya istri orang saat momen Lebaran. Istilah ini kemudian diadaptasi oleh pedagang sebagai label unik untuk menarik konsumen.
Gamis Viral yang Bikin Cuan Pedagang
Desain gamis ini memiliki ciri khas tampilan simpel tetapi tetap elegan, dengan pilihan warna yang kalem dan bahan yang nyaman dipakai sepanjang hari. Hal ini membuatnya cepat menarik perhatian pembeli, terutama wanita yang berburu busana untuk dipakai selama Ramadan, buka puasa bersama, atau silaturahmi saat Lebaran nanti.
Sejumlah pedagang di Pasar Tanah Abang mengungkapkan bahwa sejak tren ini merebak, omzet penjualan gamis meningkat signifikan dibandingkan penjualan di bulan biasa. Penambahan label “Bini Orang” pada produk justru membuat banyak pembeli tertarik untuk datang ke pasar dan memanfaatkannya sebagai bagian dari persiapan Lebaran.
Ramainya Pasar Tanah Abang di Awal Ramadan
Lonjakan antusiasme pengunjung Pasar Tanah Abang tidak hanya terjadi karena busana trendi ini, tetapi juga karena rutinitas tahunan masyarakat yang mulai berburu pakaian baru sejak memasuki Ramadan. Para pengunjung yang datang bukan hanya warga Jakarta, tetapi juga dari luar kota. Aktivitas ini bahkan diperkirakan akan meningkat tajam memasuki pekan kedua Ramadan hingga menjelang Lebaran.
Menurut pengelola pasar, peningkatan kunjungan ini menjadi bagian dari dinamika ekonomi tradisional yang tetap kuat meski era digital telah memengaruhi pola konsumsi sebagian masyarakat. Tren gamis “Bini Orang” yang viral di TikTok justru mendorong banyak pelaku usaha kecil dan menengah untuk memanfaatkan platform digital dalam memperluas pasar mereka.
Peluang dan Tantangan di Era Digital
Fenomena ini menunjukkan bagaimana konten viral di media sosial dapat memengaruhi perilaku konsumen dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Sementara itu, pedagang tradisional dan pelaku UMKM menjaga relevansi dengan mengikuti tren dan memadukan strategi online serta offline untuk menarik pelanggan.
Dengan makin ramainya pengunjung dan peningkatan permintaan gamis trendi, Pasar Tanah Abang kembali menunjukkan perannya sebagai pusat perdagangan fashion besar di ibu kota, sekaligus ruang interaksi antara tren digital dan pasar tradisional. (*)
*Muhammad Almaz Firza Sasongko, mahasiswa Universitas Trunojoyo Madura.
Editor : Mizan Ahsani