PONOROGO - Citra kebudayaan daerah dinarasikan lewat tarian. Setelah Kota Bengawan yang merutinkan Solo Menari 24 Jam, Ponorogo ambil bagian dalam hari tari sedunia. Sebuah peringatan yang telah dikampanyekan Counseil Internasional de la Danse sejak 1982 silam.
Dua versi tarian ditampilkan Sanggar Kartika Puri. Versi Bantarangin dan Ki Ageng Kutu. Versi pertama ditampilkan sebagai pembukaan. Tetabuhan gamelan diikuti lenggak-lenggok penari jathil. Dilanjutkan tarian versi kedua yang ditampilkan dengan merangkai cerita yang dipadukan gerakan atraktif. ‘’Memang ada perbedaan. Komposisinya juga berbeda. Versi Ki Ageng Kutu biasa disebut reyog obyok,’’ ungkap Sudirman, pimpinan Sanggar Kartika Puri.
Jika versi Ki Ageng Kutu dibawakan jathil dan singo barong, Bantarangin lebih ramai. Mulai warok, jathil, klanasewandana, bujangganong hingga singo barong. Tak kurang dari 60-an personil ditampilkan. ‘’Bantarangin memiliki alur cerita sehingga durasinya lebih lama,’’ tuturnya.
Sudirman mengingatkan, dua versi tarian itu merupakan warisan kesenian yang harus dilestarikan. Tak sebatas meramaikan hari tari sedunia. Agar generasi mendatang tak melupakan sejarah warisan leluhur. ‘’Kalau bukan kita bersama, siapa yang akan melestarikannya. Mari terus gaungkan reyog Ponorogo agar semakin mendunia,’’ tuturnya.
Sebelum pentas, puluhan penari diarak keliling kampung. Penari jathil yang dipasang di depan barisan mengamit spanduk bertuliskan Peringatan Hari Tari Sedunia. Disusul penari warok, klanasewandana, bujangganong dan pembarong. Tak sedikit warga yang turut bergabung dalam barisan. Iring-iringan berakhir di pelataran sanggar di Kelurahan Paju tersebut. ‘’Agar semua tahu bahwa sekarang (kemarin) merupakan peringatan hari tari sedunia. Itu sudah kami peringati sejak 2016 silam,’’ terangnya. (mg7/fin)
Editor : Administrator