PONOROGO, Jawa Pos Radar Ponorogo – Peran jathil dalam akar kebudayaan Ponorogo bukan sekadar konco panggung. Jathil sangat layak mendapat panggung utama seperti reyog. Tidak sekadar menjadi kesenian yang ditampilkan sebagai pelengkap reyog. ‘’Tidak hanya sebagai iringan,’’ kata Kabid Kebudayaan Disbudparpora Judha, Sabtu (18/1).
Keindahan gerak tari jathil tidak terbantahkan. Selaras dengan perkembangan zaman. Sejarahnya membuktikan bahwa kesenian ini tak pernah gagap beradaptasi dengan tuntunan zaman. ‘’Seni itu universal. Dibikin apa saja bebas. Tapi, harus tetap sesuai nilai dan tradisi aslinya,’’ tegasnya saat diskusi dalam milad Paguyuban Jathil Obyok Ponorogo, Sabtu lalu.
Diskusi akhir pekan itu membahas etika dan estetika berbusana jathil. Saat ini, busana penari jathil sudah mengalami banyak perubahan. Judha tunjuk contoh pakaian yang sudah lebih tertutup. Celana yang dikenakan para penari kini setinggi lutut. Dengan kaus kaki setinggi sampai menutup mata kaki. ‘’Dari sisi etika sudah bagus,’’ ujarnya.
Sekarang ini pun, sebagian jathil tak lagi mengenakan jaranan eblek. Tak seperti era 1960 hingga 1970 yang selalu dikenakan setiap pertunjukan jathil. Karakter sebagai prajurit atau ksatria berkuda pun tetap melekat. ‘’Kalau tidak membawa eblek, ke mana kudanya? Tapi, sekarang memang ada yang melepas jaranan eblek,’’ beber Judha.
Berbagai penyesuaian, lanjutnya, sangat umum dilakukan untuk menjadikan kesenian tetap relevan dengan zaman. ‘’Estetika dan etika harus dikedepankan. Supaya jathil tetap menjadi kesenian yang adiluhung. Menarik sebagai tontonan dan memberi tuntunan,’’ sebutnya. (naz/c1/fin)
Layak Mendapat Panggung Sendiri
YAYASAN Reyog Ponorogo (YRP) meyakini jathil layak mendapat panggung tersendiri yang lebih besar. Tidak sekadar dikenal sebagai kesenian pengiring reyog. ‘’Jathil harusnya bisa. Kami sangat mendukung terwujudnya gagasan itu,’’ kata Ketua YRP Budi Warsito.
Jathil terbilang paripurna sebagai sebuah seni tari. Geraknya luwes, cerita yang disajikan sarat nilai. Sebagai sebuah seni tradisional, etika dan estetika yang dibawakan sudah cukup baik. Memesona penonton dalam lenggak-lenggok gerak yang santun.
Lantas, bagaimana caranya supaya jathil bisa naik kelas? Menurut Budi, jathil bisa meniru reyog dalam mempertahankan kelasnya. Di Ponorogo, sepanjang tahun digelar festival setingkat nasional yang diikuti berbagai paguyuban luar daerah hingga mancanegara. ‘’Itu salah satu cara agar menasional. Karena itu, yang pertama perlu dilakukan adalah mendata seberapa banyak paguyuban jathil yang ada. Di Ponorogo dan di luar daerah,’’ paparnya.
Sambil jalan, workshop perlu terus digelar. Untuk meningkatkan kualitas para pelaku seninya. Jika sudah siap, event serupa festival reyog juga perlu digelar. ‘’Aturan main ditoto. Sarananya apa, kriteria yang dinilai bagaimana. Semua perlu ditoto,’’ tegas Budi.
Paguyuban Jathil Obyok Ponorogo menginjak usia keenamnya tahun ini. Menandakan para pegiat seni tersebut semakin solid. Keberadaan paguyuban juga penting dalam hal pengembangan kesenian tersebut. YRP akan mendukung pengembangan jathil agar bisa naik kelas hingga mendapat panggung tersendiri. Namun, Budi menekankan bahwa jathil tetaplah bagian dari reyog yang memperkaya kesenian asli Ponorogo tersebut. ‘’Jathil perlu bangkit hingga level nasional. Yayasan meyakini kesenian jathil mampu,’’ ucapnya. (naz/c1/fin)
Editor : Administrator