Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Ari Dwi Priwanto Merajin Miniatur Kincir dari Bahan Bambu

Hengky Ristanto • Rabu, 26 Januari 2022 | 07:01 WIB
Bambu wulung teronggok mengisi salah satu sudut ruangan rumah Ari Dwi Priwanto di Desa Tatung, Balong, Ponorogo. (AJI PUTRA/RADAR PONOROGO)
Bambu wulung teronggok mengisi salah satu sudut ruangan rumah Ari Dwi Priwanto di Desa Tatung, Balong, Ponorogo. (AJI PUTRA/RADAR PONOROGO)

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Bambu wulung teronggok mengisi salah satu sudut ruangan rumah Ari Dwi Priwanto di Desa Tatung, Balong, Ponorogo. Si empunya rumah sengaja memilih bambu berkelir gelap itu sebagai bahan baku miniatur kincir air. Keseharian Ari meraut dan merangkai bilah bambu menjadi bentuk sesuai keinginannya. ‘’Bambu wulung lebih mengkilap kalau divernis,’’ katanya, Selasa (25/1).


Dia mengaku belajar membuat kincir air mini dari tayangan di YouTube. Butuh waktu sebulan lamanya melakukan uji coba. Mulai menentukan desain, ukuran, hingga ornamen lain sebagai pelengkap. Ari awalnya penasaran lantaran kolam ikannya terasa biasa-biasa saja tanpa hiasan kincir air. ‘’Mata harus melotot saat mengamati tayangan di YouTube,’’ ujar pria 25 tahun itu.


Karya perdana jadi, Ari sengaja mem-posting-nya. Tak dinyana, pesanan datang bergantian. Ari selama ini menawarkan miniatur kincir air berukuran kecil dan sedang. Harganya selisih Rp 100 ribu dari ukuran sedang yang dibanderol Rp 220 ribu. Namun, dia tidak menolak jika calon pelanggan memesan ukuran khusus. ‘’Satu kincir air perlu waktu dua sampai tiga hari proses finishing-nya,’’ jelas Ari.


Dia harus mengeringkan benar vernis yang melapisi bambu wulung itu di bawah paparan matahari. Kincir air mini buatan Ari berhiaskan patung petani, pemancing, penjala ikan, dan orang naik sepeda. Terlihat alami tatkala dua bilah bambu bersentuhan hingga memunculkan bunyi khas. ‘’Saya sudah jual 10 miniatur kincir air, pembeli baru sebatas dari Ponorogo dan Madiun,’’ ungkapnya.


Ari sempat terkendala ketersediaan bahan baku. Populasi bambu wulung cukup padat di Desa Tatung. Namun, kondisi penghujan membuatnya kesulitan mendapatkan bambu berumur tua dengan kadar air rendah. Ari mengaku terpaksa mengulak potongan bambu dengan harga per batang Rp 18 ribu sepanjang delapan meter. ‘’Satu lonjor (batang, Red) bambu jadi dua miniatur kincir air,’’ terangnya.


Tatkala sulit mendapatkan bambu wulung, dia terpaksa memakai bambu apus di beberapa bagian kincir air. Dua jenis bambu sama-sama awet asalkan sudah kering. Tingkat kesulitan paling tinggi ternyata membuat komponen petani, pemancing, penjala ikan, dan orang naik sepeda. Semua komponen yang ada harus terangkai agar mampu bergerak ketika terguyur air. ‘’Pembeli tinggal pasang pompa air kecil ke instalasi yang sudah saya buat,’’ ucapnya.


Ari mengklaim miniatur kincir buatannya mampu tahan lama. Bambu kering yang terguyur air malah semakin kuat. Lantaran memasang  ornamen di kolam air bukan sekadar pajangan, dia sengaja selektif memilih bahan baku. ‘’Buat apa kalau tidak fungsional,’’ tanyanya balik. (fac/hw/c1/her)

Editor : Hengky Ristanto
#ponorogo