PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Larung sesaji di Telaga Ngebel menjadi penanda dimulainya harapan baru pada tahun baru Islam. Sedekah hasil bumi itu pun mengundang animo masyarakat hingga kawasan wisata itu tumpah ruah pengunjung kemarin (30/7). Larung sesaji itu sekaligus menjadi rangkaian acara sakral Grebeg Suro perdana di masa pandemi Covid-19 ini.
Ada sepuluh tumpeng dalam tradisi turun-temurun itu. Satu diantaranya, Tumpeng Agung berukuran raksasa. Tingginya sekitar dua meter dengan diameter bawah dua meter. Tumpeng ini terdiri dari gunungan nasi berbahan beras merah. Tumpeng dilengkapi dengan uborampe seperti ingkung ayam merah, sayur-mayur di bagian bawah serta kacang panjang di bagian atas atau puncak tumpeng.
Sembilan tumpeng lain merupakan hasil bumi berisi aneka sayur maupun buah. Kedatangan tumpeng di lokasi larung disambut tarian gambyong. Sekaligus sebagai pembuka proses adat larung sesaji. Proses ritual itu kental dengan adat-istiadat Jawa. Diiringi gending, musik tradisional khas Jawa. Serta ucapan doa dan puji-pujian kepada Allah untuk menyambut tahun baru Islam penuh suka cita. Adapula penampilan tarian reog untuk menghibur warga.
Sebelum dilarung, seluruh tumpeng dikirab puraga mengelilingi telaga. Selanjutnya, Tumpeng Agung dibawa ke lokasi larung. Tumpeng dibawa ke tengah telaga. Bersamaan itu, sembilan tumpeng dipurak dan menjadi rebutan warga. Bupati Ponorogo Sugiri Sancoko menyebut tradisi itu sebagai bentuk syukur atas nikmat yang diberikan. Sekaligus memulai harapan baru pada tahun baru islam. ‘’Tugas kita hanya dua hal. Meneruskan hal baik yang diwariskan leluhur, dan mewariskan hal yang baik ke cucu kita kelak,’’ kata Kang Giri, sapaan akrabnya.
Hartono, Sesepuh Telaga Ngebel sekaligus pemimpin ritual larung sesaji menjelaskan, tradisi itu telah ada sejak dulu kala. Hanya, pelaksanaannya diadakan di delapan desa di Kecamatan Ngebel. Barulah pada 1993 lalu, seluruh warga sepakat larung sesaji dipusatkan di telaga. Tujuannya, untuk meningkatkan daya tarik wisata. Serta mengembalikan hasil alam ke alam dengan proses larung tersebut. ‘’Ketika itu masih iuran, jalan kaki dipikul keliling telaga kemudian dilarung,’’ jelas Hartono.
Sehari sebelumnya (29/7), diadakan proses ritual Jamasan Kambing Kendit yang menjadi persiapan larung sesaji. Kambing kendit merupakan istilah untuk menyebut kambing Jawa berwarna hitam polos dan terdapat warna putih pada bagian tubuhnya. Kambing tersebut disembelih di dermaga atau lokasi larung. ‘’Wilujeng slametan. Harapannya selamat, menunjukkan apa yang jadi ubarampe larung sesaji. Sebagai bentuk syukur kepada Allah,’’ jelasnya.
Bersamaan itu, digelar istighosah di Masjid Jami setempat. Serta doa dari penghayat kepercayaan di Balai Kecamatan Ngebel. Hartono menyatakan, seluruh prosesi ritual tersebut merupakan warisan leluhur. ‘’Harapannya, sebagai wujud syukur seluruh kenikmatan pemberian Tuhan. Juga berharap sepanjang tahun baru ini, ke depan warga Ngebel mendapat berkah,’’ pungkasnya. (kid)
Editor : Hengky Ristanto