PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun – Seniman memiliki tanggung jawab besar dan mulia dalam menjaga rumah kebudayaan. Diwujudkan lewat karya yang mencerdaskan bangsa. Tak kurang dari 130 lukisan karya 45 perupa dari berbagai daerah dipamerkan di kediaman R. Tondowinoto (Ndoro Tondo) di Jalan H.O.S. Cokroaminoto.
Pameran bertajuk Jejak Maestro itu sukses menarik animo berbagai kalangan. Mulai pelajar hingga masyarakat umum dari berbagai daerah. ‘’Pameran ini bertujuan meregenasi pelaku seni rupa,’’ kata Sugeng Ariyadi, koordinator pameran, Jumat (5/8).
Ratusan lukisan itu mengusung beragam genre. Mulai realis, naturalis, surealis, ekspresionis, hingga dekoratif. Ada juga lukisan dengan aliran abstrak pop art, digital art, maupun kaligrafi. ‘’Deformasi aliran peralihan bentuk, perupa angkatan lama dan muda,’’ ujar Sugeng.
Pameran tersebut turut menandai perkembangan seni rupa di kabupaten ini. Diawali dari para perupa yang masuk dalam angkatan lama atau lebih dikenal Sanggar Shor Zambou. Angkatan ini muncul 21 April 1981 silam. ‘’Pelukis di masa lalu memiliki beragam kemampuan, seperti membuat patung dan lainnya,’’ jelas perupa kelahiran 1976 itu.
Beberapa karya yang dihadirkan seperti gapura perbatasan Tugu Mlilir dan Patung Sukowati (Keniten) karya alm Pak Sayugyo. Lukisan lainnya karya Sudiro, alm Choiri, Alwi, Sigit Widiyanto, Nardi, alm Suryono (Si Brong), alm Moh. Rohyani, alm Mucaris, dan masih banyak seniman lainnya. ‘’Anggota Sanggar Zhor Zambou gonta-ganti dan keluar-masuk sampai sekarang ini,’’ ungkapnya.
Seni rupa di Ponorogo terus berkembang. Sederet angkatan muda terlahir dari berbagai komunitas. Seperti Kamis Pon, Ruang Vadem, C4 Ilustrator, ADC (Art Drawing Comunitie), Kelompok Air, Kelompok Dodel Art, Kelompok Sketsa, Kelompok Digital Art, Kelompok Mural, Kelompok Vidio Art, Komunitas Fotografi, serta berbagai komunitas lainnya. Karya mereka telah menyebar ke berbagai negara. ‘’Seni rupa terus bergeliat di Bumi Reog,’’ ungkapnya. (tr3/kid/c1/fin)
Editor : Hengky Ristanto