Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Persepon Ponorogo, Masa Jaya Pernah Menghadapi Arema dan Persebaya

Hengky Ristanto • Senin, 17 Oktober 2022 | 01:00 WIB
Persepon Ponorogo
Persepon Ponorogo

PONOROGO, Jawa Pos Radar Madiun - Kejayaan itu mati suri 14 tahun lamanya. Dodi Amril Triawan, kapten Persepon bersama skuadnya tampil lepas di putaran pertama Piala Pakde Karwo 2006 lalu.


Berada satu grup bersama Persemag, PSM Madiun, Prapon Jatim, Laskar Suromenggolo mampu merebut posisi runner up. Persepon lolos di putaran kedua berhadapan dengan Persebaya, Arema, dan Diklat Mandau. ‘’Ketika itu pertama kali lawan klub besar di Jatim,’’ kata Didot, sapaan kapten kesebelasan Persepon era 2000-an, Minggu (16/10).


Di grup berjuluk neraka itu, Persepon tumbang lawan Diklat Mandau dengan skor 3-1. Kalah 2-0 lawan Arema, dan 8-0 dihajar Persebaya. Kendati kalah, setidaknya pengalaman perdana lolos 12 besar itu menjadi torehan membanggakan bagi Persepon. ‘’Ini prestasi membanggakan dan boleh dibilang moncernya Persepon,’’ ujarnya.


Prestasi moncer kembali didulang 2007 pada Liga 3 yang menjadi kompetisi kasta tertinggi Jawa Timur. Bermain di Blitar di putaran pertama, Persepon mampu sapu bersih melawan Bangkalan dan Trenggalek. Hanya kalah dengan PSBK yang menjadi tuan rumah. ‘’Lolos ke Bondowoso putaran kedua,’’ lanjutnya.


Perlu satu langkah saja Persepon lolos ke nasional di putaran ketiga. Sayangnya, Persepon berturut kalah melawan tuan rumah (Persebo) 1-0, Persem (Mojokerto) 1-0. Serta berbagi skor 0-0 dengan Persepam (Pamekasan). ‘’Tapi karena ketika itu kalau lolos untuk berangkat ke Karawang harus cari-cari biaya lagi,’’ ujarnya.


Didot dkk merasakan betul beratnya perjuangan membesarkan Persepon ketika itu. Pun di tahun-tahun itu, dia mengaku merasakan mulianya menjadi pemain Persepon. Pengelolaan klub yang apik, gaji pemain, gizi, penginapan, semua tercukupi. ‘’Jadi pemain tambah luar biasa semangatnya. Hasilnya, membanggakan juga,’’ ungkap Didot yang didapuk menjadi asisten pelatih Persepon sejak 2018 itu.


Moncernya prestasi itu justru ketika Persepon diisi mayoritas materi pemain lokal. Didot ingat betul hanya ada tiga pemain luar daerah yang didatangkan. Diposisikan di striker, gelandang, dan bek. Selebihnya seluruh posisi lain diisi pemain lokal. ‘’Ketika itu cari pemain enak, pembinaan di desa-desa jalan,’’ imbuhnya.


Pasca 2007, prestasi Persepon mati suri. Nama Persepon tetap bertanggal di kompetisi Liga 3 Jatim, namun tumbang di putaran pertama. Kondisi itu berlangsung 14 tahun lamanya. Dalam kurun waktu itu pula, Persepon kesulitan mendapatkan pemain lokal.


‘’Sekarang mau cari pemain nggak ada internalan (lokal, Red). Jadi klub-klub mau bina juga mikir karena nggak ada kompetisi, bagaimana bisa pembibitan?’’ tanyanya balik.


Tahun lalu, Harimaunya Jatim ini mulai bangkit. Persepon lolos ke 16 besar di Liga 3 Jatim 2021 lalu. Pencapaian ini dapat menjadi modal besar bagi Laskar Suromenggolo memoles prestasi yang kian kusam pada Liga 3 Jatim tahun ini.


‘’Persoalannya non teknis. Meredupnya 2007-2021 itu karena pembinaan kurang, pembibitan jadinya putus. Makanya setelah itu ada kelompok umur, dan habis kita belum siap,’’ ujarnya.


Didot berharap catatan historis ini dapat menjadi penggugah seluruh pihak untuk bergandeng erat mewujudkan angan Persepon Hebat menjadi kenyataan tahun ini. Persepon harus lolos ke delapan besar. ‘’Hidupkan kompetisi internal, terakhir itu 2017 setelah itu tidak ada. Anggaran kecil untuk sepak bola harus dipikir ulang oleh pemkab,’’ pungkasnya. (kid)

Editor : Hengky Ristanto
#persepon ponorogo #Dodi Amril Triawan #Arema FC #liga 3 jatim #Persebaya