Namun, pedagang mengaku lapaknya sepi pembeli. Sebab, warga beralih membeli beras di operasi pasar yang harganya lebih terjangkau. ‘’Sejak ada operasi pasar menjadi sepi karena warga pilih beras yang lebih murah,’’ kata Nurul Baidah, pedagang Pasar Legi.
Bulog Ponorogo tetap berkomitmen menggencarkan operasi pasar dengan prioritas sasaran pasar tradisional. Rata-rata menggelontor 20-25 ton beras per hari. Warga diberikan kesempatan untuk menebus dua pak beras jenis medium kemasan lima kilogram. Syarat menebus beras Rp 8.500 per kilogram itu cukup dengan menunjukkan kartu tanda penduduk (KTP). ‘’Operasi pasar fokus pasar tradisional sampai 27 Februari,’’ kata Pimpinan Cabang Kantor Bulog Ponorogo Aan Sugiarto.
Bulog menyiapkan stok 800 ton untuk operasi pasar beras murah. Hal itu bertujuan untuk mempercepat harga beras kembali stabil. Mengingat hasil pantauannya di lapangan harga beras medium di tingkat penggilingan Rp 9.500 per kilogram. Sedangkan harga gabah di tingkat penggilingan Rp 5.400 per kilogram. ‘’Sebentar lagi panen raya, kami persiapkan harga turun,’’ lanjutnya.
Bulog memprediksi harga beras berangsur normal dalam waktu tidak lama lagi. Beberapa daerah di Jawa Tengah seperti Pati sudah memasuki masa panen raya. Tinggal menunggu Ngawi, Madiun, dan Ponorogo. ‘’Kalau Ngawi sudah panen, kemudian Ponorogo menyusul, kami pastikan harga beras kembali stabil,’’ urainya. (kid/fin) Editor : Hengky Ristanto